Part 5 – PERFECT
“Cari tau dia siapa, dari keluarga
mana, dan apapun yang berhubungan dengan dirinya. Saya minta datanya malam ini
juga!” Ujar seorang gadis pada orang suruhannya di seberang sana.
“Jangan
lupa, selidiki dia dengan mendetil! Lengkap selengkap-lengkapnya,” perintahnya
lagi. Sambungan telpon langsung ia tutup begitu saja tanpa mengucapkan apapun
lagi pada orang di seberang sana.
Napas
gadis itu memburu dan tangannya terkepal marah. Ia memukul stir di hadapannya
dengan geram. Otaknya mulai merangkai berbagai rencana jahat dan tak lama gadis
itu tertawa kemudian berteriak histeris. Beruntung suara Adam Levin di dalam
mobil ini cukup kencang sehingga sanggup menyamarkan teriakan histerisnya.
Selain itu, kaca mobil ini cukup gelap sehingga orang-orang yang lewat di
sebelah mobilnya tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang ia lakukan
sekarang. Mulut gadis ini bergetar menahan amarah yang begitu meluap-luap dalam
dirinya.
Tiba-tiba
ponselnya berdering. Sejenak ia tersenyum miring ketika menduga kalau telepon
tersebut adalah laporan dari anak buahnya. Senyumnya pudar ketika membaca caller-ID di layar ponselnya. Mama. Dengan kesal ia me-reject panggilan tersebut dan melempar
ponselnya ke bangku penumpang di sisinya. Kepalanya ia telungkupkan di atas
stir mobil. Tak lama kemudian ponselnya berdering lagi. Tangannya meraba-raba
mencari keberadaan benda elektronik itu. Setelah mendapatkannya ia segera
menekan tombol answer tanpa melihat caller-ID yang tertera terlebih dahulu.
“Nona
Wenda, saya sudah mendapatkan informasi yang anda minta,” seru seseorang di
seberang.
“Cepat
sebutkan!” Gadis bernama Wenda tersebut menegakan punggungnya, siap untuk
mendengarkan segala informasi yang akan disebutkan oleh anak buahnya.
“Vannesa
Amora Martadinata, anak ketga dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Admiral
Martadinata dan Ibunya Felizarni Al Farizi. Lahir di Jakarta, tanggal 19 Juni
1997. Ia tinggal bersama kedua orang tua serta kedua kakaknya di Perumahan
Menteng, Jl. Cut Mutia No. 35. Kakeknya perintis perusahaan Marta Group dengan
anak cabang yang sudah tersebar di beberapa negara dan berbagai bidang yang
dikuasai oleh mereka. Ayahnya menjabat sebagai Direktur Keuangan di perusahaan
Marta Group pusat sementara ibunya mempunyai sebuha butik baju ternama di
bilangan Kemang.
“Kedua
kakaknya adalah laki-laki, yang sulung bernama Moreno Alfanza Martadinata dan
yang kedua adalah Ceno Al Farizi Martadinata. Keduanya masih berkuliah di
universitas bergengsi di Indonesia. Moreno sendiri sedang menyelesaikan
skripsinya. Kembali kepada Vannesa, menurut info yang saya dapat ia bukan gadis
manja seperti kebanyakan anak konglomerat, ia tergolong mandiri dan pernah
memenangkan beberapa kejuaran beladiri Karate serta lomba debat menggunakan
Bahasa Inggris tingkat nasional sewaktu masih SMP. Prestasinya di kelas selama
SMP juga tidak meragukan lagi, beberapa orang bahkan menganggapnya tidak
memiliki kelemahan—”
“Cukup,”
Wenda menyela. Senyum misterius muncul di wajahnya. “Kerja bagus, Jenny. Saya
masih butuh bantuan kamu suatu saat nanti. Oh, ya. Jangan beritahu Mama dimana
keberadaan saya. Saya butuh udara segar,
tanpa penjagaan ataupun obat penenang.” Wenda segera memutus saluran telpon
sebelum Jenny mengatakan satu patah kata pun.
“Kalau
orang lain nggak bisa menemukan kelemahan lo, gue sendiri yang akan cari
kelemahan lo itu, Vannesa Amora.” Desisnya diiringi seringai kejam di wajah
cantiknya.
******************************************************************************
“Nessaaa,” bisik seseorang di sebelah
Vannesa. Ia sedang berada di kantin untuk menemani Regina sarapan, namun ia
malas untuk menyadari senior kupret satu ini sudah duduk di sebelahnya. Dengan
santainya Vannesa menyeruput jus jeruknya tanpa menghiraukan manusia yang
sedang memperhatikannya dengan intens.
Ih, ini bocah! Kayak nggak ada kerjaan lain
aja selain ngintilin gue seharian ini. Untung aja dia nggak ikut belajar di
kelas gue!
Sedang
seriusnya Vannesa menyeruput minumannya ketika tiba-tiba gelasnya dirampas oleh
cowok di sebelahnya. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan. Sabar, Ness. Dia cuma setan yang lagi ngetes
kesabaran lo aja kok.
Regina, teman sebangkunya sejak pertama kali
menginjakan kaki di sekolah ini hanya bisa menatap keduanya bergantian. Ia
sudah biasa menonton pertengkaran keduanya. Sempat terbesit di pikirannya kalau
kedua anak manusia ini merupakan pasangan yang cocok. Hanya saja Vannesa
menyangkal pemikirannya tersebut.
“Cocok
dari ujung sedotan!” sembur Vannesa waktu itu.
Regina
hanya mampu menghela napas. Ia yakin keduanya akan menyadari dan menyetujui
pendapatnya suatu saat nanti. Tunggu aja
tanggal mainnya, Re.
“Steve,
basket , yuk!” salah seorang teman sekelas Steve mengajaknya untuk bermain
basket seperti biasa.
“Nggak,
ah. Gue mau pacaran dulu,” sahut Steve seraya mengibaskan tangannya malas.
“Duileee
yang lagi kasmaran,” cowok itu langsung bersiul-siul heboh ketika melewati
Nessa dan Steve. Hal tersebut membuat Vannesa sukses melongo. Detik berikutnya
ia mendorong tubuh Steve hingga hampir jatuh dari bangku kantin.
“Sana,
lo! Jangan deket-deket gue,” ujarnya.
“Ya
elah, babe, kita kan mau pacaran.
Masa iya kamu ngusir aku, sih? Kalo aku diusir kamu pacaran sama siapa coba?”
goda Steve. Ia mulai menggunakan aku-kamu, sengaja untuk menggoda Vannesa yang
gampang marah kalau ia goda.
“Sama
semut!”
“Ih,
kamu bawaannya marah-marah mulu. Kenapa sih, hon? Lagi pms, ya? Adoooww—”
“Makanya
kalo ngomong, tuh, jangan asal,” kata Vannesa puas. Stevent mengelus kepalanya
yang sakit akibat timpukan novel milik Vannesa yang tebalnya cocok untuk
mengganjal pintu rumahnya.
“Yuk,
Re, kita balik aja ke kelas.” Vannesa segera bangkit berdiri untuk menghindari
tindakan tidak terduga Steve yang sewaktu-waktu bisa muncul untuk membalas
perbuatannya barusan. Regina hanya menganggukan kepalanya dan ikut berdiri di
sebelah Vannesa. Stevent memperhatikan keduanya dengan kening berkerut samar.
“Mau
coba-coba kabur kamu, ya! Awas aja ntar,” seru Steve kepada Vannesa yang sudah
menjauh. Sebelum beIok di ujung koridor, Vannesa berbalik dan menjulurkan
lidahnya kepada Steve. Cowok itu hanya balas menatapnya dengan tatapan datar
dan memutuskan untuk mengajak teman-temannya yang sedang sibuk bermain basket
untuk kembali ke kelas karena jam pelajaran pertama akan dimulai 10 menit lagi.
******************************************************************************
“Perkenalkan, nama saya Wenda Santika
Pridjaja. Saya pindahan dari Singapore karena ayah saya diutus tempatnya
bekerja untuk kembali ke Indonesia. Senang bisa kembali ke Indonesia dan
berkenalan dengan kalian.”
Stevent
menatap malas ke arah gadis yang sedang memperkenal dirinya di depan kelas.
Gadis itu melirik ke arahnya dan melemparkan senyum manis yang hanya dibalas
tatapan datar oleh Steve. Entah kenapa ia tidak berminat untuk membalas senyum
gadis itu. Di otaknya hanya ada satu nama; Vannesa.
Tuh cewek lagi ngapain, ya? Isengin, ah.
Ide jahil muncul di kepala Steve dan ia segera
mengeluarkan smartphone dari saku
celana abu-abunya. Ia mengetikan pesan singkat kepada Vannesa dan segera
menekan tombol ‘send’ tepat ketika
guru menyuruh si murid baru untuk duduk di kursi kosong di depannya.
“Wenda,
kamu bisa duduk di kursi kosong dekat situ, ya,” ujar Bu Yuni—guru biologi yang
merupakan wali kelas Stevent. Beliau menunjuk meja di dekat jendela yang
kebetulan ada tepat di depan tempat duduk Stevent.
Gadis
itu melangkah ke tempat duduk yang ditunjuk tadi. “Hai, Steve. Remember me?” sapanya pada Steve
diiringi kedipan mata. Stevent yang merasa tidak asing dengan gadis di
hadapannya ini hanya mengangkat sebelah alisnya.
Siapa ya? Mukanya nggak asing.
“Sampai mana catatan kalian kemarin, nak?”
suara Bu Yuni menyadarkan Stevent yang sedari tadi sibuk mengingat-ingat gadis
di depannya.
Drrt..
Drrt.. Drrt..
Ponsel
di saku celana seragamnya bergetar. Stevent mencari kesempatan untuk melihat
isi pesan yang masuk ke ponselnya.
From:
Nessa (My Cupid)
Stop texting me, please! You’re wasting my time. And one more, you wish too much, boy!
Stop texting me, please! You’re wasting my time. And one more, you wish too much, boy!
Tawa Steve hampir meledak ketika membaca
balasan dari Vannesa. Ia membayangkan wajah Vannesa yang merah padam menahan
emosi karena pesan singkat yang dikirimkannya tadi. Dengan cepat ia
menyentuhkan jarinya di atas layar ponselnya dan mengetikan balasan untuk
Vannesa.
To:
Nessa ( My Cupid)
Uh, babe, don’t you know how sexy you when you get angry like now?
Uh, babe, don’t you know how sexy you when you get angry like now?
Dan
Steve yakin di seberang sana Nessa sedang menahan emosi dengan wajah yang sudah
bukan merah lagi, melainkan biru!
******************************************************************************
Nessa sedang serius memperhatikan
papan tulis dan penjelasan dari Bu Elie, guru matematikanya, ketika ponselnya
bergetar heboh tanda ada SMS masuk. Ia mencuri kesempatan untuk melihat isi SMS
ketika gurunya sedang menulis beberapa soal yang membutuhkan tingkat
konsentrasi tinggi untuk mendapatkan jawabannya.
From:
Stevent Dammit
Hei, babe. Would u like to give me a morning kiss? I get bored now :*
Hei, babe. Would u like to give me a morning kiss? I get bored now :*
“Gosh! What a damn message!” gerutu
Vannesa dengan suara pelan. Ia tidak mau mengambil resiko karena berteriak
heboh di kelas yang hening ini. Tanpa menunggu lama ia segera membalas pesan
tersebut.
To:
Stevent Dammit
Stop texting me, please! You’re wasting my time. And one more, you wish too much, boy!
Stop texting me, please! You’re wasting my time. And one more, you wish too much, boy!
Dengan wajah memerah karena menaha kesal,
Vannesa memasukan kembali ponselnya ke dalam saku seragamnya. Ia kembali
berkonsentrasi menyalin soal-soal di papan tulis dan mencari jalan keluar untuk
pemecahan soal-soal sialan tersebut. Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar
kembali. Ia membuka pesan singkat dari makhluk nyebelin tersebut dengan
sembunyi-sembunyi.
From:
Stevent Dammit
Uh, babe, don’t you know how sexy you when you get angry like now?
Uh, babe, don’t you know how sexy you when you get angry like now?
“Sialan emang, nih, anak,” kata Vannesa pelan.
Tidak terlalu pelan karena Regina mendengarnya.
“Siapa
yang sialan, Ness?”
“Eh..
Oh, nggak, bukan siapa-siapa, kok.”
Vannesa
memutuskan untuk tidak membalas SMS dari Stevent. Ia tidak mau emosinya semakin
naik dan menimbulkan kecurigaan dari Bu Elie. Dengan kesal ia mematikan
ponselnya dan memasukan benda elektronik tersebut ke dalam tasnya.
******************************************************************************
“Steve!” panggil seseorang.
Suara
tersebut membuat Stevent dan juga Vannesa yang sedang meliriknya sinis karena
dipaksa untuk pulang dengannya menoleh ke sumber suara. Seorang gadis
berperawakan tinggi langsing sedang berlari ke arah mereka berdua.
“Hai,
Steve.” Sapa gadis tersebut saat tiba di hadapan keduanya.
“Oh,
hai,” balas Steve.
Gadis
yang merupakan Wenda tersebut melirik Vannesa yang berdiri di sebelah Steve dan
tersenyum ramah. “Ini siapa, Steve?” tanya lembut.
“Kenalin,
ini pacar gue, namanya Vannesa Martadinata.” Ujar Steve bangga seraya merangkul
bahu Vannesa. Vannesa yang merasa risih dirangkul seperti itu oleh Stevent
berusaha melepaskan rangkulan tangan Steve pada bahunya, namun apa daya.
Usahanya hanya tinggal usaha.
“Oh,
halo Vannesa. Gue Wenda Pridjaja, temen sekelasnya Steve. Kebetulan gue baru di
sini,” ucapnya disertai senyum ramah.
“Halo,
salam kenal, ya,” balas Vannesa dengan ramah.
“Kalo
diliat-liat lo cantik, ya. Manis pula. Kayaknya nggak salah deh Steve dapetin
cewek yang hampir mendekati kata sempurna kayak lo.”
Vannesa
yang mendengar pujian yang dilontarkan oleh Wenda hanya tersenyum kecil dan
menggumamkan kalimat ‘terima kasih’.
“Kalo
gitu gue duluan ya, Wen. Mau anter Nessa balik dulu, nih. Bye,” kata Steve
riang.
Wenda
yang melihat keduanya mulai beranjak pergi hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
Senyumnya berubah sinis tatkala melihat Steve membukakan pintu mobil untuk
Vannesa.
“Lo
nikmati aja saat-saat terakhir lo duduk di sebelah Steve, Ness. Karena setelah
ini, gue yang akan duduk di sana, Vannesa!”
Part 6 – Ambisi
Nessa baru akan melangkah melewati
pintu utama rumahnya saat ia menyadari Steve sedang membuntutinya. Ia berbalik
dan menemukan Steve sedang berdiri dengan cengiran di wajahnya.
Vannesa
melengos malas melihat Steve. “Lo mau ngapain, sih?” tanyanya kesal sembari
menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
“Mau
ngapel, non.” jawab Steve santai.
“Idiiiihhh!
Pergi lo sana, bosen gue liat muka lo,” gerutu Nessa.
Steve
menaikan sebelah alisnya. “Lho? Kok kamu bosen liat muka aku, sih, babe?”
“Hhh,
berisik lo!” Nessa menyerah untuk mengusir Steve. Cowok batu kayak gini emang susah dikasih tau, Ness!
Dengan
sedikit menghentakan kakinya, Vannesa melangkah memasuki rumah yang kelewat
megah disusul Steve yang berjalan santai di belakangnya. Ini kali kedua Stevent
memasuki rumah yang bisa disebut mansion
ini. Ia mengamati arsitektur yang membangun rumah ini. Walau mansion keluarga Vannesa masih kalah
besar dibandingkan dengan mansion
keluarganya, ia cukup mengagumi desain ruang tamunya.
Suasana
kekeluargaan yang ada di rumah ini cukup kental terasa memalui foto-foto yang
terpajang di dinding maupun di meja yang terletak di sudut ruang tamu. Hangat,
itu kesan yang ditangkap Steve tentang keluarga Vannesa melalui foto-foto yang
sedang ia amati.
Pandangannya
terhenti pada pigura berukuran sedang yang diletakan di atas meja. Pigura
tersebut memuat sebuah foto seorang anak perempuan kira-kira berumur 5 tahun
yang sedang tersenyum ceria digendongan seorang anak lelaki yang umurnya
beberapa tahun lebih tua dari gadis kecil tersebut. Ia menebak itu adalah Ceno
yang sedang menggendong Vannesa kecil. Tanpa sadar ia tersenyum lembut melihat
kecerian Vannesa di foto tersebut.
“Imut,”
gumamnya.
******************************************************************************
Vannesa sudah membersihkan wajahnya
yang terasa kotor karena debu dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai, ia
bersiap untuk turun dan menemui Stevent yang seharian ini terus membuntutinya.
Setelah menyisir rambutnya, ia menghela napas pelan dan memutar kenop pintu.
Dengan pelan ia menuruni tangga tanpa menimbulkan suara.
Tiba-tiba
kakinya berhenti di anak tangga terbawah saat melihat Steve yang sedang
tersenyum lembut melihat fotonya saat berumur 5 tahun dalam gendongan Ceno.
Tanpa sadar ia menahan napas melihat senyuman Stevent yang menurutnya langka
tersebut. Matanya masih terus memandangi senyum Stevent dengan kagum.
Andai aja lo bisa bersikap lembut sedikit
dan gak nyebelin kayak biasanya, mungkin gue udah suka kali sama lo dari awal
kita ketemu. Sayang, sikap lo sekarang ngeselinnya minta ampun. Tapi, kalo
diliat-liat senyum lo manis juga.
Tiba-tiba
sebuah jitakan di dahinya membuat Vannesa kembali terlempar ke alam nyata.
Vannesa mengerjap kaget melihat Steve yang sudah ada di hadapannya. Ia
mengerucutkan bibirnya seraya mengelus dahinya.
“Lo
ngapain bengong aja di sini? Gue panggilin tapi nggak nyaut-nyaut. Minta
dicium, ya?” tanya Steve dengan wajah sengaknya yang membuat Vannesa siap
muntah di wajahnya sekarang juga.
“STEVEEENNNTT!!
GUE BENCI SAMA LOOOO!!” jerit Vannesa histeris. Untung kedua abangnya yang usil
dan kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Kalau tidak, habislah dia.
“GUE
JUGA CINTA SAMA LO, VANNESAAAA!!” Stevent balas berteriak dan mengerling jahil
kepada Vannesa yang sedang mengatur deru napasnya. Saking sebalnya Nessa dengan
Steve membuatnya tanpa sadar menjerit heboh dan mengakibatkan napasnya
tersengal-sengal.
“Sakit
jiwa nih, orang,” gumam Vannesa pelan. “Lama-lama bisa ikutan nggak waras nih
gue!”
“Lo
mau minum apa?” tanya Vannesa, dia berusaha untuk bersikap sopan kepada
tamunya. Orang kayak gini bisa disebut
tamu emang?
“Apa
aja yang penting dingin, hon.”
Vannesa
berjalan ke arah pantry dan
mengeluarkan botol berisi air putih dingin. Gadis itu sedang malas
memperdebatkan panggilan yang diberikan Steve untuknya. Biarlah cowok itu
melakukan sesuatu yang ia sukai asal jangan mengganggunya untuk kali ini. Ia
butuh ketenangan.
“Nih,”
ucap Vannesa seraya menyodorkan gelas berisi air dingin kepada Steve.
“Thanks, babe.”
“Mm..”
Vannesa bergumam tidak jelas.
Steve
meletakan gelas minumnya yang isinya sudah habis setengahnya ke atas meja
makan. “Jalan, yuk?”
“Ogah,
ah. Gue lagi banyak PR tau.” tolak Vannesa. Ia sedang malas untuk keluar rumah,
lagipula tugas-tugasnya sedang menumpuk dan memanggil-manggil untuk dikerjakan.
“PR
apa? Kali aja gue bisa bantu,” tawar Steve lembut.
“Yakin
bisa bantu?”
“Ya,
kita liat aja nanti. Udah sana ambil PR lo.” Dengan langkah gontai Vannesa
menaiki anak tangga dan berjalan ke kamarnya. Sementara itu Stevent kembali ke
ruang tamu dan duduk di salah satu sofa empuk berwarna cokelat muda. Ia
menempelkan punggungnya pada sandaran sofa dan menghembuskan napas pelan.
Stevent
memejamkan matanya sejenak, melepas penat yang menghampiri. Beberapa hari ini
guru memberikan tugas dan ulangan harian yang tiada henti—membuat otaknya
hampir meledak saking mumetnya.
“Steve?”
Sebuah suara membangunkan Steve.
“Ng?”
Gumamnya tak jelas.
“Ayooo,
katanya mau ajarin gue? Gimana sih?”
“Oh,
iya. Ya, udah. Mana tugas lo?”
“Nih,”
mereka pun sibuk berdiskusi satu sama lain. Melupakan sejenak pertengkaran
mereka.
******************************************************************************
“Ini data yang Nona minta,” Jenny
menyerahkan selembar kertas HVS kepada majikannya. Ia memandang sang majikan
dengan tatapan prihatin. “Nona, tadi pagi ibu anda menelpon saya dan
mengingatkan agar anda meminum obat insomnia dalam takaran yang ben—”
“Kamu
boleh pergi sekarang, Jenny. Dan ingat, saya tak butuh ceramah tak bermutu mu
itu!” tandasnya dengan nada dingin.
Jenny
yang tak bisa berkutik lagi hanya menganggukan kepala dan segera keluar dari
apartemen milik Wenda. Sebenarnya ia merasa prihatin kepada majikannya ini.
Akibat seseorang di masa lalu membuat majikannya ini mempunyai ambisi yang
sangat kuat. Ambisi yang menimbulkan sisi negatif dalam diri sang nona mencuat
keluar. Mendominasi jiwa Wenda dan mengalahkan sisi baik atau positif dalam
diri Wenda.
“Hhh,
semoga Nona Wenda sadar kalau perbuatannya selama ini salah. Gue udah nggak
kuat jadi kaki tangannya dalam hal jahat.”
No comments:
Post a Comment