Thursday, August 8, 2013

Hate That I Love You (Part 5-6)

Part 5 – PERFECT
“Cari tau dia siapa, dari keluarga mana, dan apapun yang berhubungan dengan dirinya. Saya minta datanya malam ini juga!” Ujar seorang gadis pada orang suruhannya di seberang sana.
                “Jangan lupa, selidiki dia dengan mendetil! Lengkap selengkap-lengkapnya,” perintahnya lagi. Sambungan telpon langsung ia tutup begitu saja tanpa mengucapkan apapun lagi pada orang di seberang sana.
                Napas gadis itu memburu dan tangannya terkepal marah. Ia memukul stir di hadapannya dengan geram. Otaknya mulai merangkai berbagai rencana jahat dan tak lama gadis itu tertawa kemudian berteriak histeris. Beruntung suara Adam Levin di dalam mobil ini cukup kencang sehingga sanggup menyamarkan teriakan histerisnya. Selain itu, kaca mobil ini cukup gelap sehingga orang-orang yang lewat di sebelah mobilnya tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang ia lakukan sekarang. Mulut gadis ini bergetar menahan amarah yang begitu meluap-luap dalam dirinya.
                Tiba-tiba ponselnya berdering. Sejenak ia tersenyum miring ketika menduga kalau telepon tersebut adalah laporan dari anak buahnya. Senyumnya pudar ketika membaca caller-ID di layar ponselnya. Mama. Dengan kesal ia me-reject panggilan tersebut dan melempar ponselnya ke bangku penumpang di sisinya. Kepalanya ia telungkupkan di atas stir mobil. Tak lama kemudian ponselnya berdering lagi. Tangannya meraba-raba mencari keberadaan benda elektronik itu. Setelah mendapatkannya ia segera menekan tombol answer tanpa melihat caller-ID yang tertera terlebih dahulu.
                “Nona Wenda, saya sudah mendapatkan informasi yang anda minta,” seru seseorang di seberang.
                “Cepat sebutkan!” Gadis bernama Wenda tersebut menegakan punggungnya, siap untuk mendengarkan segala informasi yang akan disebutkan oleh anak buahnya.
                “Vannesa Amora Martadinata, anak ketga dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Admiral Martadinata dan Ibunya Felizarni Al Farizi. Lahir di Jakarta, tanggal 19 Juni 1997. Ia tinggal bersama kedua orang tua serta kedua kakaknya di Perumahan Menteng, Jl. Cut Mutia No. 35. Kakeknya perintis perusahaan Marta Group dengan anak cabang yang sudah tersebar di beberapa negara dan berbagai bidang yang dikuasai oleh mereka. Ayahnya menjabat sebagai Direktur Keuangan di perusahaan Marta Group pusat sementara ibunya mempunyai sebuha butik baju ternama di bilangan Kemang.
                “Kedua kakaknya adalah laki-laki, yang sulung bernama Moreno Alfanza Martadinata dan yang kedua adalah Ceno Al Farizi Martadinata. Keduanya masih berkuliah di universitas bergengsi di Indonesia. Moreno sendiri sedang menyelesaikan skripsinya. Kembali kepada Vannesa, menurut info yang saya dapat ia bukan gadis manja seperti kebanyakan anak konglomerat, ia tergolong mandiri dan pernah memenangkan beberapa kejuaran beladiri Karate serta lomba debat menggunakan Bahasa Inggris tingkat nasional sewaktu masih SMP. Prestasinya di kelas selama SMP juga tidak meragukan lagi, beberapa orang bahkan menganggapnya tidak memiliki kelemahan—”
                “Cukup,” Wenda menyela. Senyum misterius muncul di wajahnya. “Kerja bagus, Jenny. Saya masih butuh bantuan kamu suatu saat nanti. Oh, ya. Jangan beritahu Mama dimana keberadaan saya. Saya  butuh udara segar, tanpa penjagaan ataupun obat penenang.” Wenda segera memutus saluran telpon sebelum Jenny mengatakan satu patah kata pun.
                “Kalau orang lain nggak bisa menemukan kelemahan lo, gue sendiri yang akan cari kelemahan lo itu, Vannesa Amora.” Desisnya diiringi seringai kejam di wajah cantiknya.
******************************************************************************
“Nessaaa,” bisik seseorang di sebelah Vannesa. Ia sedang berada di kantin untuk menemani Regina sarapan, namun ia malas untuk menyadari senior kupret satu ini sudah duduk di sebelahnya. Dengan santainya Vannesa menyeruput jus jeruknya tanpa menghiraukan manusia yang sedang memperhatikannya dengan intens.
                Ih, ini bocah! Kayak nggak ada kerjaan lain aja selain ngintilin gue seharian ini. Untung aja dia nggak ikut belajar di kelas gue!
                Sedang seriusnya Vannesa menyeruput minumannya ketika tiba-tiba gelasnya dirampas oleh cowok di sebelahnya. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan. Sabar, Ness. Dia cuma setan yang lagi ngetes kesabaran lo aja kok.
                Regina, teman sebangkunya sejak pertama kali menginjakan kaki di sekolah ini hanya bisa menatap keduanya bergantian. Ia sudah biasa menonton pertengkaran keduanya. Sempat terbesit di pikirannya kalau kedua anak manusia ini merupakan pasangan yang cocok. Hanya saja Vannesa menyangkal pemikirannya tersebut.
                “Cocok dari ujung sedotan!” sembur Vannesa waktu itu.
                Regina hanya mampu menghela napas. Ia yakin keduanya akan menyadari dan menyetujui pendapatnya suatu saat nanti. Tunggu aja tanggal mainnya, Re.
                “Steve, basket , yuk!” salah seorang teman sekelas Steve mengajaknya untuk bermain basket seperti biasa.
                “Nggak, ah. Gue mau pacaran dulu,” sahut Steve seraya mengibaskan tangannya malas.
                “Duileee yang lagi kasmaran,” cowok itu langsung bersiul-siul heboh ketika melewati Nessa dan Steve. Hal tersebut membuat Vannesa sukses melongo. Detik berikutnya ia mendorong tubuh Steve hingga hampir jatuh dari bangku kantin.
                “Sana, lo! Jangan deket-deket gue,” ujarnya.
                “Ya elah, babe, kita kan mau pacaran. Masa iya kamu ngusir aku, sih? Kalo aku diusir kamu pacaran sama siapa coba?” goda Steve. Ia mulai menggunakan aku-kamu, sengaja untuk menggoda Vannesa yang gampang marah kalau ia goda.
                “Sama semut!”
                “Ih, kamu bawaannya marah-marah mulu. Kenapa sih, hon? Lagi pms, ya? Adoooww—”
                “Makanya kalo ngomong, tuh, jangan asal,” kata Vannesa puas. Stevent mengelus kepalanya yang sakit akibat timpukan novel milik Vannesa yang tebalnya cocok untuk mengganjal pintu rumahnya.
                “Yuk, Re, kita balik aja ke kelas.” Vannesa segera bangkit berdiri untuk menghindari tindakan tidak terduga Steve yang sewaktu-waktu bisa muncul untuk membalas perbuatannya barusan. Regina hanya menganggukan kepalanya dan ikut berdiri di sebelah Vannesa. Stevent memperhatikan keduanya dengan kening berkerut samar.
                “Mau coba-coba kabur kamu, ya! Awas aja ntar,” seru Steve kepada Vannesa yang sudah menjauh. Sebelum beIok di ujung koridor, Vannesa berbalik dan menjulurkan lidahnya kepada Steve. Cowok itu hanya balas menatapnya dengan tatapan datar dan memutuskan untuk mengajak teman-temannya yang sedang sibuk bermain basket untuk kembali ke kelas karena jam pelajaran pertama akan dimulai 10 menit lagi.
******************************************************************************
“Perkenalkan, nama saya Wenda Santika Pridjaja. Saya pindahan dari Singapore karena ayah saya diutus tempatnya bekerja untuk kembali ke Indonesia. Senang bisa kembali ke Indonesia dan berkenalan dengan kalian.”
                Stevent menatap malas ke arah gadis yang sedang memperkenal dirinya di depan kelas. Gadis itu melirik ke arahnya dan melemparkan senyum manis yang hanya dibalas tatapan datar oleh Steve. Entah kenapa ia tidak berminat untuk membalas senyum gadis itu. Di otaknya hanya ada satu nama; Vannesa.
                Tuh cewek lagi ngapain, ya? Isengin, ah.
                Ide jahil muncul di kepala Steve dan ia segera mengeluarkan smartphone dari saku celana abu-abunya. Ia mengetikan pesan singkat kepada Vannesa dan segera menekan tombol ‘send’ tepat ketika guru menyuruh si murid baru untuk duduk di kursi kosong di depannya.
                “Wenda, kamu bisa duduk di kursi kosong dekat situ, ya,” ujar Bu Yuni—guru biologi yang merupakan wali kelas Stevent. Beliau menunjuk meja di dekat jendela yang kebetulan ada tepat di depan tempat duduk Stevent.
                Gadis itu melangkah ke tempat duduk yang ditunjuk tadi. “Hai, Steve. Remember me?” sapanya pada Steve diiringi kedipan mata. Stevent yang merasa tidak asing dengan gadis di hadapannya ini hanya mengangkat sebelah alisnya.
                Siapa ya? Mukanya nggak asing.
                “Sampai mana catatan kalian kemarin, nak?” suara Bu Yuni menyadarkan Stevent yang sedari tadi sibuk mengingat-ingat gadis di depannya.
                Drrt.. Drrt.. Drrt..
                Ponsel di saku celana seragamnya bergetar. Stevent mencari kesempatan untuk melihat isi pesan yang masuk ke ponselnya.
                From: Nessa (My Cupid)
                Stop texting me, please! You’re wasting my time. And one more, you wish too much, boy!
                Tawa Steve hampir meledak ketika membaca balasan dari Vannesa. Ia membayangkan wajah Vannesa yang merah padam menahan emosi karena pesan singkat yang dikirimkannya tadi. Dengan cepat ia menyentuhkan jarinya di atas layar ponselnya dan mengetikan balasan untuk Vannesa.
                To: Nessa ( My Cupid)
                Uh, babe, don’t you know how sexy you when you get angry like now?
                Dan Steve yakin di seberang sana Nessa sedang menahan emosi dengan wajah yang sudah bukan merah lagi, melainkan biru!
******************************************************************************
Nessa sedang serius memperhatikan papan tulis dan penjelasan dari Bu Elie, guru matematikanya, ketika ponselnya bergetar heboh tanda ada SMS masuk. Ia mencuri kesempatan untuk melihat isi SMS ketika gurunya sedang menulis beberapa soal yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi untuk mendapatkan jawabannya.
                From: Stevent Dammit
                 Hei, babe. Would u like to give me a morning kiss? I get bored now :*
                “Gosh! What a damn message!” gerutu Vannesa dengan suara pelan. Ia tidak mau mengambil resiko karena berteriak heboh di kelas yang hening ini. Tanpa menunggu lama ia segera membalas pesan tersebut.
                To: Stevent Dammit
                Stop texting me, please! You’re wasting my time. And one more, you wish too much, boy!
                Dengan wajah memerah karena menaha kesal, Vannesa memasukan kembali ponselnya ke dalam saku seragamnya. Ia kembali berkonsentrasi menyalin soal-soal di papan tulis dan mencari jalan keluar untuk pemecahan soal-soal sialan tersebut. Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar kembali. Ia membuka pesan singkat dari makhluk nyebelin tersebut dengan sembunyi-sembunyi.
                From: Stevent Dammit
                Uh, babe, don’t you know how sexy you when you get angry like now?
                “Sialan emang, nih, anak,” kata Vannesa pelan. Tidak terlalu pelan karena Regina mendengarnya.
                “Siapa yang sialan, Ness?”
                “Eh.. Oh, nggak, bukan siapa-siapa, kok.”
                Vannesa memutuskan untuk tidak membalas SMS dari Stevent. Ia tidak mau emosinya semakin naik dan menimbulkan kecurigaan dari Bu Elie. Dengan kesal ia mematikan ponselnya dan memasukan benda elektronik tersebut ke dalam tasnya.
******************************************************************************
“Steve!” panggil seseorang.
                Suara tersebut membuat Stevent dan juga Vannesa yang sedang meliriknya sinis karena dipaksa untuk pulang dengannya menoleh ke sumber suara. Seorang gadis berperawakan tinggi langsing sedang berlari ke arah mereka berdua.               
                “Hai, Steve.” Sapa gadis tersebut saat tiba di hadapan keduanya.
                “Oh, hai,” balas Steve.
                Gadis yang merupakan Wenda tersebut melirik Vannesa yang berdiri di sebelah Steve dan tersenyum ramah. “Ini siapa, Steve?” tanya lembut.
                “Kenalin, ini pacar gue, namanya Vannesa Martadinata.” Ujar Steve bangga seraya merangkul bahu Vannesa. Vannesa yang merasa risih dirangkul seperti itu oleh Stevent berusaha melepaskan rangkulan tangan Steve pada bahunya, namun apa daya. Usahanya hanya tinggal usaha.
                “Oh, halo Vannesa. Gue Wenda Pridjaja, temen sekelasnya Steve. Kebetulan gue baru di sini,” ucapnya disertai senyum ramah.
                “Halo, salam kenal, ya,” balas Vannesa dengan ramah.
                “Kalo diliat-liat lo cantik, ya. Manis pula. Kayaknya nggak salah deh Steve dapetin cewek yang hampir mendekati kata sempurna kayak lo.”
                Vannesa yang mendengar pujian yang dilontarkan oleh Wenda hanya tersenyum kecil dan menggumamkan kalimat ‘terima kasih’.
                “Kalo gitu gue duluan ya, Wen. Mau anter Nessa balik dulu, nih. Bye,” kata Steve riang.
                Wenda yang melihat keduanya mulai beranjak pergi hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Senyumnya berubah sinis tatkala melihat Steve membukakan pintu mobil untuk Vannesa.
                “Lo nikmati aja saat-saat terakhir lo duduk di sebelah Steve, Ness. Karena setelah ini, gue yang akan duduk di sana, Vannesa!”























Part 6 – Ambisi
Nessa baru akan melangkah melewati pintu utama rumahnya saat ia menyadari Steve sedang membuntutinya. Ia berbalik dan menemukan Steve sedang berdiri dengan cengiran di wajahnya.
                Vannesa melengos malas melihat Steve. “Lo mau ngapain, sih?” tanyanya kesal sembari menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
                “Mau ngapel, non.” jawab Steve santai.
                “Idiiiihhh! Pergi lo sana, bosen gue liat muka lo,” gerutu Nessa.
                Steve menaikan sebelah alisnya. “Lho? Kok kamu bosen liat muka aku, sih, babe?”
                “Hhh, berisik lo!” Nessa menyerah untuk mengusir Steve. Cowok batu kayak gini emang susah dikasih tau, Ness!
                Dengan sedikit menghentakan kakinya, Vannesa melangkah memasuki rumah yang kelewat megah disusul Steve yang berjalan santai di belakangnya. Ini kali kedua Stevent memasuki rumah yang bisa disebut mansion ini. Ia mengamati arsitektur yang membangun rumah ini. Walau mansion keluarga Vannesa masih kalah besar dibandingkan dengan mansion keluarganya, ia cukup mengagumi desain ruang tamunya.
                Suasana kekeluargaan yang ada di rumah ini cukup kental terasa memalui foto-foto yang terpajang di dinding maupun di meja yang terletak di sudut ruang tamu. Hangat, itu kesan yang ditangkap Steve tentang keluarga Vannesa melalui foto-foto yang sedang ia amati.
                Pandangannya terhenti pada pigura berukuran sedang yang diletakan di atas meja. Pigura tersebut memuat sebuah foto seorang anak perempuan kira-kira berumur 5 tahun yang sedang tersenyum ceria digendongan seorang anak lelaki yang umurnya beberapa tahun lebih tua dari gadis kecil tersebut. Ia menebak itu adalah Ceno yang sedang menggendong Vannesa kecil. Tanpa sadar ia tersenyum lembut melihat kecerian Vannesa di foto tersebut.
                “Imut,” gumamnya.
******************************************************************************
Vannesa sudah membersihkan wajahnya yang terasa kotor karena debu dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai, ia bersiap untuk turun dan menemui Stevent yang seharian ini terus membuntutinya. Setelah menyisir rambutnya, ia menghela napas pelan dan memutar kenop pintu. Dengan pelan ia menuruni tangga tanpa menimbulkan suara.
                Tiba-tiba kakinya berhenti di anak tangga terbawah saat melihat Steve yang sedang tersenyum lembut melihat fotonya saat berumur 5 tahun dalam gendongan Ceno. Tanpa sadar ia menahan napas melihat senyuman Stevent yang menurutnya langka tersebut. Matanya masih terus memandangi senyum Stevent dengan kagum.
                Andai aja lo bisa bersikap lembut sedikit dan gak nyebelin kayak biasanya, mungkin gue udah suka kali sama lo dari awal kita ketemu. Sayang, sikap lo sekarang ngeselinnya minta ampun. Tapi, kalo diliat-liat senyum lo manis juga.
                Tiba-tiba sebuah jitakan di dahinya membuat Vannesa kembali terlempar ke alam nyata. Vannesa mengerjap kaget melihat Steve yang sudah ada di hadapannya. Ia mengerucutkan bibirnya seraya mengelus dahinya.
                “Lo ngapain bengong aja di sini? Gue panggilin tapi nggak nyaut-nyaut. Minta dicium, ya?” tanya Steve dengan wajah sengaknya yang membuat Vannesa siap muntah di wajahnya sekarang juga.
                “STEVEEENNNTT!! GUE BENCI SAMA LOOOO!!” jerit Vannesa histeris. Untung kedua abangnya yang usil dan kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Kalau tidak, habislah dia.
                “GUE JUGA CINTA SAMA LO, VANNESAAAA!!” Stevent balas berteriak dan mengerling jahil kepada Vannesa yang sedang mengatur deru napasnya. Saking sebalnya Nessa dengan Steve membuatnya tanpa sadar menjerit heboh dan mengakibatkan napasnya tersengal-sengal.
                “Sakit jiwa nih, orang,” gumam Vannesa pelan. “Lama-lama bisa ikutan nggak waras nih gue!”
                “Lo mau minum apa?” tanya Vannesa, dia berusaha untuk bersikap sopan kepada tamunya. Orang kayak gini bisa disebut tamu emang?
                “Apa aja yang penting dingin, hon.”
                Vannesa berjalan ke arah pantry dan mengeluarkan botol berisi air putih dingin. Gadis itu sedang malas memperdebatkan panggilan yang diberikan Steve untuknya. Biarlah cowok itu melakukan sesuatu yang ia sukai asal jangan mengganggunya untuk kali ini. Ia butuh ketenangan.
                “Nih,” ucap Vannesa seraya menyodorkan gelas berisi air dingin kepada Steve.
                “Thanks, babe.
                “Mm..” Vannesa bergumam tidak jelas.
                Steve meletakan gelas minumnya yang isinya sudah habis setengahnya ke atas meja makan. “Jalan, yuk?”
                “Ogah, ah. Gue lagi banyak PR tau.” tolak Vannesa. Ia sedang malas untuk keluar rumah, lagipula tugas-tugasnya sedang menumpuk dan memanggil-manggil untuk dikerjakan.
                “PR apa? Kali aja gue bisa bantu,” tawar Steve lembut.
                “Yakin bisa bantu?”
                “Ya, kita liat aja nanti. Udah sana ambil PR lo.” Dengan langkah gontai Vannesa menaiki anak tangga dan berjalan ke kamarnya. Sementara itu Stevent kembali ke ruang tamu dan duduk di salah satu sofa empuk berwarna cokelat muda. Ia menempelkan punggungnya pada sandaran sofa dan menghembuskan napas pelan.
                Stevent memejamkan matanya sejenak, melepas penat yang menghampiri. Beberapa hari ini guru memberikan tugas dan ulangan harian yang tiada henti—membuat otaknya hampir meledak saking mumetnya.
                “Steve?” Sebuah suara membangunkan Steve.
                “Ng?” Gumamnya tak jelas.
                “Ayooo, katanya mau ajarin gue? Gimana sih?”
                “Oh, iya. Ya, udah. Mana tugas lo?”
                “Nih,” mereka pun sibuk berdiskusi satu sama lain. Melupakan sejenak pertengkaran mereka.
******************************************************************************
“Ini data yang Nona minta,” Jenny menyerahkan selembar kertas HVS kepada majikannya. Ia memandang sang majikan dengan tatapan prihatin. “Nona, tadi pagi ibu anda menelpon saya dan mengingatkan agar anda meminum obat insomnia dalam takaran yang ben—”
                “Kamu boleh pergi sekarang, Jenny. Dan ingat, saya tak butuh ceramah tak bermutu mu itu!” tandasnya dengan nada dingin.
                Jenny yang tak bisa berkutik lagi hanya menganggukan kepala dan segera keluar dari apartemen milik Wenda. Sebenarnya ia merasa prihatin kepada majikannya ini. Akibat seseorang di masa lalu membuat majikannya ini mempunyai ambisi yang sangat kuat. Ambisi yang menimbulkan sisi negatif dalam diri sang nona mencuat keluar. Mendominasi jiwa Wenda dan mengalahkan sisi baik atau positif dalam diri Wenda.

                “Hhh, semoga Nona Wenda sadar kalau perbuatannya selama ini salah. Gue udah nggak kuat jadi kaki tangannya dalam hal jahat.”

No comments:

Post a Comment