Thursday, August 8, 2013

Hate That I Love You (Part 1-2)

Part 1 – Senior Sialan!
“Non.. Ini makanannya, Bik Icah tarok sini ya.”
                “Oh, iya, Bik. Makasih, ya,” ucap seorang gadis yang sedang sibuk menyisir rambutnya tanpa mengalihkan tatapan dari cermin besar dihadapannya. Pembantu rumah tangga tersebut segera pamit keluar dari kamar berukuran besar itu.
                Sepeninggal Bik Icah, gadis itu meneguk susu putih yang ada di gelas dan mencomot sepotong roti bakar. Setelah selesai dengan sarapannya, ia kembali mematut diri di depan cermin. Dengan sedikit tergesa-gesa  ia memoles wajahnya dengan bedak bayi yang wanginya sangat ia sukai.
                Setelah siap, gadis cantik keturunan Minangkabau-Meksiko ini turun ke lantai satu rumah mewahnya. Ia melihat kedua abangnya tengah duduk manis di ruang makan. Mereka berdua terlihat sibuk dengan sarapannya masing-masing.
                “Bang Reno, pagi ini ke kampus gak?” tanyanya.
                “Nggak, Ness. Gue ke kampusnya siang, kenapa?” lelaki tampan yang dipanggil Reno ini mengernyit heran melihat adik bungsunya yang sejak tadi sudah heboh sendiri. Entah karena ia bangun kesiangan atau apa, Reno tidak tahu masalahnya.
                Vannesa menggerutu tidak jelas sebelum akhirnya beralih kepada satu lagi makhluk yang sedari tadi hanya menatap dirinya dari atas sampai bawah. “Bang Ceno, pagi ini ngampus nggak? Kalo ngampus gue bareng dong. Udah telat, nih,” Vannesa sengaja memasang wajah memelas andalannya yang dapat meluluhkan hati kedua abangnya ini.
                “Iya, gue ngampus, dek. Emang lo kenapa bisa kesiangan, sih? Nggak biasanya,” Ceno Al Farizi—anak kedua di keluarga Admiral Martadinata—menatapnya dengan satu alis terangkat.
                “Don’t ask me anything now. Yang penting sekarang Bang Ceno cepetan abisin sarapannya, gue udah telat, nih. Hari ini gue MOS hari kedua, bisa berabe kalo sampe telat,” gerutunya.
                Ceno menangkupkan sendok dan garpunya di atas piring nasi gorengnya seraya berkata, “Calm down, princess. I’ve done with my breakfast. So, shall we go now?” Ia mempersilakan adiknya untuk jalan di depannya dengan gaya ala pengawal kerajaan.
                “Ayooooooo!!” Vannesa segera berlari ke garasi rumahnya, meninggalkan Reno dan Ceno yang tertawa melihat tingkahnya.
                “She must be get a man who can balance her,” ucap Reno setelah tawanya berhenti yang ditanggapi dengan anggukan singkat Ceno sebelum menghilang ke garasi.
******************************************************************************
Dammit! Gue telat banget, rutuk  Vannesa dalam hatinya. Dengan diiringi tatapan kagum dari para cowok di lapangan ia maju ke hadapan ketua OSIS yang memanggilnya karena terlambat.
                “Kamu kenapa telat?” tanya si ketua OSIS dengan nada tegas. Vannesa sampai merasa si ketua ini sedang menginterogasi dirinya seperti ia ini anak gadisnya yang pulang terlalu larut.
                Tanpa menunjukan rasa takutnya Vannesa menjawab, “Maaf, kak. Saya terlambat karena bangun kesiangan dari jadwal biasanya, ditambah lagi macetnya Jakarta yang ampun-ampunan...”
                Belum selesai ia berbicara, si ketua menyelanya, “Kalo udah tau Jakarta macet kenapa masih bangun kesiangan??” Si ketua menaikan nada suaranya satu oktaf. Tetap dengan wibawanya yang membuat Vannesa ingin muntah seketika.
                “HP saya dari semalem error, kak, jadi alarmnya nggak hidup. Jam weker saya juga lagi rusak. Dan tidur saya pulas banget, kak, pake mimpi juga. Sampe saya nggak denger suara ketukan pintu kamar sama teriakan dari pembantu yang ngebangunin saya. Tau-tau pas saya bangun, pembantu saya bilang  udah jam setengah enam lewat sepuluh. Jadinya saya kesiangan, deh,” jelas Vannesa dengan memasang wajah polosnya. Sepolos mungkin agar si ketua bawel ini mempercayai penjelasannya.
                Sebenarnya alasan yang ia buat tidak sepenuhnya jujur. Pagi tadi ia sudah bangun seperti jadwal biasanya. Namun, ketika teringat hari ini adalah hari keduanya MOS di SMA Multi Bangsa ia kembali merebahkan diri di kasur dan mematikan alarm di ponsel pintarnya. Vannesa terlalu malas mengikuti MOS yang diadakan OSIS sekolah barunya. Ketika terdengar suara ketukan pintu kamar yang membuat dirinya terbangun, jam sudah menunjukan pukul setengah enam lewat sepuluh.
                Si ketua—yang menurutnya memiliki tampang lumayan—masih memperhatikannya dari atas sampai bawah dengan padangan kesal. “Terlalu banyak alesan,” geramnya. “Kamu gabung sama yang lain di sana, di pos khusus siswa baru yang telat.” Ketua OSIS ini menunjuk ke arah gerombolan murid-murid yang terlambat dan dijaga oleh dua orang temannya.
                “Oke, kak,” jawabnya seraya melenggang santai ke pos siswa baru yang terlambat. Si ketua menatap punggungnya yang menjauh dengan kesal, baru kali ini ada adik kelas yang membuat banyak alasan ketika terlambat datang saat MOS—dan menjelaskannya dengan santai tanpa rasa takut atau gugup sekalipun.
******************************************************************************
“Minta tanda tangan?”
                “Iya. Dari tadi kan saya udah bilang, kalau saya minta tanda tangan kakak!” Habis sudah kesabaran Vannesa menghadapi senior di hadapannya ini.
                Laki-laki di depannya menatapnya seraya berpikir sejenak. Lalu, “Siapa yang nyuruh lo minta tanda tangan gue?” tanyanya.
                Vannesa menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut sebelum menjawab, “Kak Andi yang nyuruh.”
                Kalau kayak gini caranya, gue nyesel deh ikut MOS hari ini! Udah panas, mandi keringet, masih harus ikut ujian kesabaran sama senior kupret satu ini pula! Vannesa ngedumel sendiri dalam hati seraya menatap jengkel lelaki berwajah tampan yang sedang melipat tangannya di depan dada.
                Sementara itu, laki-laki yang dimintai tanda tangannya  oleh Vannesa sedang mati-matian menahan tawanya karena melihat tampang Vannesa. Semburat merah yang  muncul di wajah gadis ini menandakan ia sedang menahan emosi dan itu makin mempercantik dirinya di mata lelaki ini.
                “Well, gue akan ngasih lo tanda tangan, asal lo ikutin kemauan gue.”
                “Aduh. Kenapa harus pake acara nurutin kemauan dia, sih?” keluh Vannesa pelan. Mungkin kurang pelan karena senior berwajah blasteran ini menaikan sebelah alisnya dan menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. “Oh, jadi lo nggak mau ikutin kemauan gue, nih, ceritanya? No problem, lo gak ikutin kemauan gue, itu artinya nggak ada tanda tangan!” tandasnya langsung. “Toh, nggak ada ruginya juga kok buat gue,” lanjutnya.
                Lelaki berhidung macung dengan tatapan mata yang jahil tersebut melenggang pergi dari hadapan Vannesa yang masih berdiam diri. Vannesa bingung. “Gue harus nurutin kemauan dia gitu? Tapi kalo gue nggak nurutin dan nggak dapet tanda tangannya, Kak Andi bakal ngehukum gue,” ujar Vannesa kepada dirinya sendiri.
                “Saya ikutin kemauan Kak Stevent!” teriakan Vannesa berhasil menghentikan langkah kaki lelaki yang dipanggilnya Stevent tadi.
                Stevent tersenyum menang sebelum ia berbalik untuk menatap Vannesa. Dengan langkah pelan—yang bagi Vannesa terlalu didramatisir—ia menghampiri Vannesa yang kini tengah mengerucutkan bibirnya.
                Dalam hati Vannesa berdoa supaya Stevent tidak memintanya melakukan hal yang aneh-aneh hanya untuk mendapatkan tanda tangannya. Emangnya dia pikir dia artis sampe gue harus nurutin keinginan dia cuma buat seonggok tanda tangan?!
                Stevent mengarahkan wajahnya ke telinga Vannesa dan membisikannya sesuatu. Sesuatu yang mampu membuat gadis cantik di depannya menjerit dan melotot horror.
                “WHAT THEEE—?!”
******************************************************************************
Jam istirahat tiba dan saat ini Vannesa sedang berada di tengah lapangan basket, menatap tajam Stevent yang berdiri tak jauh dari hadapannya. Berdiri dengan—ehem!—gaya cool-nya dan menatap dirinya dengan tatapan jail nan menggoda.
                Beberapa murid mulai mengelilingi mereka karena penasaran atas gerangan apa yang membuat seorang senior tampan dan juniornya yang cantik berdiri di tengah-tengah lapangan basket SMA Multi Bangsa. Vannesa merutuk dalam hati karena murid yang ada di sekitar mereka jumlahnya terus bertambah. Itu wajar mengingat sekarang sedang jamnya istirahat dan lapangan ini berada di dekat kantin. Otomatis, para murid yang sedang dalam perjalanan menuju kantin maupun ke lapangan basket dapat melihat mereka.
                Mario, salah satu sahabat Stevent menghentikan langkahnya sejenak. Ia terkena sindrom penasaran juga dan memutuskan untuk menerobos kerumunan siswa yang bejibun. Apa yang ia lihat sekarang membuatnya bingung sekaligus penasaran akut.
                Tiba-tiba sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya mengejutkan dirinya, “Yo, lo ngerti nggak sama jalan pemikiran Steve?” seketika Mario menoleh ke sumber suara tersebut, dan dengan senang hati ia meninju lengan si pemilik suara tadi. Cukup keras hingga membuat lelaki di sebelahnya meringis kesakitan.
                “Kampret, lo! Kenapa, sih, lo bisanya ngagetin gue mulu, Ram? Kalo tadi gue kena serangan jantung, gimana? Orang tua gue, kan, masih sayang sama gue,” Mario menjerit dengan lebaynya. Membuat beberapa orang di sekeliling mereka menoleh dan menyuruhnya diam.
                “Sorry,” hanya itu yang dapat Mario katakan disertai cengiran lebarnya—yang kalau dilihat para gadis, pasti akan membuat mereka terpesona.
                Laki-laki yang dipanggilnya Ram tadi kembali membuka suara, “Berisik lo, kayak knalpot!” cibirnya. Rama yang sudah bersahabat dengan Mario—juga Stevent—selama enam tahun membuatnya terbiasa mengeluarkan kalimat cibiran terhadap sahabat bawelnya satu ini.
                “Siapa suruh lo ngagetin gue, heh?!” seru Mario dongkol. Bukan apa-apa, ini adalah kesekian kalinya Rama mengejutkan dirinya dengan cara berbicara tiba-tiba seperti tadi.
                “Lebay lo, ah, kayak cewek. Back to my question, lo ngerti nggak sama jalan pemikiran Steve?”
                “Hah? Maksud lo?”
                “Ck! Makanya kalo punya otak tuh jangan dipake buat mikir fisika sama cewek aja!” cibir Rama. “Lemot kan jadinya,” lanjutnya.
                “Sompret, lo! Gue sih emang nggak pernah ngerti sama jalan pikiran tuh bocah. Tapi, delapan tahun temenan sama dia bikin gue tau apa arti kalo dia udah ngeluarin senyuman miring yang khas kayak gitu,” jelasnya seraya menatap sahabatnya di tengah lapangan sana. Stevent mengangkat sebelah alisnya ketika tatapan mereka bertumbukan, memberi kode lewat tatapan mata kepada kedua sahabatnya.
                “That means, the game will start from now!
                Sementara itu, di tengah lapangan yang sudah dipadati siswa yang gagal ke kantin dan ingin bermain basket, Vannesa berusaha menormalkan air mukanya. Ia yakin wajahnya yang putih mulus ini pasti sudah dihiasi semburat merah. Bagaimana tidak? Stevent menyuruhnya untuk ‘menembak’ dirinya di tengah lapangan pada jam istirahat. Hanya untuk sebuah tanda tangan. Tidak hanya itu, kalau nanti Stevent menolaknya, ia harus berusaha agar Stevent mau menerimanya—karena itu syarat agar ia mendapatkan tanda tangan—dan cara satu-satunya adalah dengan merayu Stevent! Great!
                “Yang bener aja? Hanya untuk seonggok tanda tangan sialan itu gue harus mempermalukan diri gue di depan umum?! Ask him to be my boyfriend??? Udah gila kali dia!” omel Vannesa dalam hati. Namun, ia tak bisa menghindar kalau tak mau hukumannya bertambah, sehingga dengan sangat terpaksa ia menuruti kemauan Stevent.
                “You must pay for all of this show, Kak Andi!” desis Vannesa tajam. Kalau tidak gara-gara Andi, senior yang menghukumnya dengan cara menyuruhnya untuk mencari orang bernama Stevent Varenzo dan meminta tanda tangannya, Vannesa pasti tidak akan berada dalam kondisi seperti ini.
                Tiba-tiba Stevent membuka suaranya, “So, apa alesan lo ngajak gue ke sini, Nona?” tatapannya menyiratkan tantangan pada Vannesa.
                “Err.. Kalo aja ada macan di sekitar sini, udah gue suruh tuh hewan buat nerkam nih anak! Dengan catatan macannya harus cowok biar nggak terpesona sama wajahnya,” ucap Vannesa dalam hati.
                Gadis ini menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan untuk mengulur waktu. Akhirnya, setelah mengumpulkan keberaniannya Vannesa menjawab, “Ng.. Gue di sini mau ngomong sesuatu sama lo, Kak Steve. Gue... Gue suka sama lo, dan.. gue.. pengen lo jadi cowok gue.” Vannesa memejamkan matanya ketika mengucapkan kalimat terakhir.
                Terdengar siulan dari beberapa siswa laki-laki di belakangnya dan itu membuat wajah Vannesa terasa panas. Ia yakin wajahnya sekarang pasti lebih merah dari sebelumnya dan terlihat seperti kepiting goreng yang siap dihidangkan dengan saus Padang andalan mamanya. Membayangkannya saja sudah membuat perut Vannesa berbunyi mengingat pagi ini ia hanya sempat memakan sepotong roti bakar dan meminum segelas susu putih. Ditambah dengan kejadian ini, membuat Vannesa tidak dapat menyetuh kotak bekal yang tadi diberikan Lucia, kepala pembantu di rumahnya, saat ia sudah duduk manis di mobil Ceno.
                Stevent berusaha menahan tawanya agar tidak meledak saat ini juga. Ia berdeham sebelum menjawab, “Baru kali ini ada cewek yang berani nyatain perasaannya terang-terangan ke gue, dan langsung minta gue jadi cowoknya pula! Such a brave girl!
                “Gue berani juga karena paksaan lo, kampret!” Ingin sekali Vannesa mengucapkan kalimat tersebut keras-keras agar para siswa yang berkumpul di sini tahu. Namun, ia terpaksa menelan kembali kata-kata yang sudah ada di pangkal tenggorokannya tersebut.
                “Gimana, kak? Kakak mau kan jadi pacar saya?” Vannesa mengucakannya dengan diiringi senyum manis andalannya. Walaupun sebenarnya ia nggak ikhlas banget melepas senyum termanisnya ini hanya demi laki-laki di hadapannya ini.
                Seketika Stevent membeku saat melihat senyum tersebut. “Gila! Nih cewek udah cantik, senyumnya manis banget pula! Anjir, kalo gini caranya gue nggak bisa nolak, nih. Steve, tenangkan diri lo. Inget, lo di sini karena satu tujuan: ngerjain junior cantik di depan lo. Tapi, senyumnya tadi bikin gue jantung gue olahraga,” Stevent berdebat dengan dirinya sendiri.
                “Kak? Hellooooo? Masih hidup kan?” tanya Vannesa sembari menggerak-gerakan tangan kanannya di depan wajah Stevent. Seketika Stevent ‘sadar lingkungan’ dan menatap Vannesa.
                “Umm... Kalo gue nggak mau jadi pacar lo, gimana?” tanya Stevent sambil memasang wajah polosnya.
                “WHAT?!”
                Semua mata kini tertuju pada Vannesa yang baru saja menutup mulutnya. Mereka berpikir Vannesa kaget karena Stevent menolaknya dengan santai. Keadaan menjadi hening seketika.
                Tiba-tiba Vannesa bersuara, “Nggak bisa gitu dong, kak! Saya tau kok, kalo kakak suka kan sama saya? Saya udah sering ngeliat Kak Steve ngikutin saya dua bulan ini. Don’t be a liar!
                “Hah?” Stevent melongo mendengar ucapan Vannesa barusan. Sejak kapan dia ngikutin gadis cantik ini? Kenal juga baru tadi.
                Di pinggir lapangan, Mario dan Rama setengah mati menahan tawanya yang sudah siap menyembur keluar karena melihat wajah bego Stevent akibat umpan balik yang dilemparkan Vannesa. Kedua sudut bibir Vannesa tertarik ke atas, membentuk senyum misterius yang membuat Stevent sadar.
                Whoa! You play with wrong man, lady, ucap Stevent dalam hatinya. “Oh, ya? Jadi lo udah tau kalo selama ini gue sering ngikutin lo? Yah, ketauan deh. Hmm..” Stevent bergumam tidak jelas diakhir kalimatnya.
                Vannesa yang kaget mendengar umpannya dapat diatasi dengan baik oleh Stevent berusaha menetralkan mimik wajahnya. Ia berusaha bersikap senormal mungkin. Be calm, Ness.
                “Jadi, gimana?” tanya Vannesa dengan memasang mimik muka berharap. Ia sudah muak dengan segala drama ini.
                “Well, karena lo udah tau semuanya dan.. gue emang suka sama lo, gue terima lo jadi cewek gue.” Vannnesa menghembuskan napas lega saat mendengar kalimat barusan. Akhirnya neraka kelar juga.
                Di hadapannya, Stevent mengeluarkan senyum misteriusnya. Tanpa Vannesa sadari, Stevent mengawasi gerak-gerik gadis itu yang sedang menyingkir ke pinggir lapangan. Ide—yang menurutnya—brilian mulai bermunculan di otaknya.
                “Cabut, guys!” teriak Stevent pada kedua sahabatnya di pinggir lapangan sana.





















Part 2 – Bad Day
Minggu pagi, waktu yang tepat untuk bersantai setelah 6 hari dituntut untuk melahap semua pelajaran yang ada. Vannesa menggeliat kecil di atas kasur berukuran queen miliknya.
                “Nessaaaaaa! Bangun lo!”
                Vannesa memejamkan matanya rapat-rapat. Berharap teriakan tadi hanyalah bagian dari mimpi indahnya. Namun, harapannya hanya angan-angan semata. Pintu kamarnya digedor dengan semangat 45 oleh seseorang yang sangat ia kenal baik.
                “Kebo, bangun! Ada yang nyariin lo tuh di bawah,” ucap suara berat di luar kamar.
                “Siapa, bang?” tanya Vannesa. Suaranya terdengar serak karena tenggorokannya kering. Matanya mengerjap akibat sinar matahari yang masuk melalui celah kecil jendela kamarnya yang tidak tertutup tirai.
                “Nggak tau. Tapi jenisnya cowok, tuh. Samperin, gih. Ada di ruang tamu di,” balas Reno.
                Vannesa menguap sebentar sebelum menjawab, “Ask him to wait for me, I’ll meet him after 20 minutes.
                “Okay, babe.” Terdengar suara langkah kaki menjauhi pintu kamarnya. Vannesa mendesah pelan lalu turun dari ranjangnya. Dengan cepat ia membuka tirai yang menutupi sebagian jendela kamar dan menyambar handuk. Sebelum tangannya menyentuh handuk, ia melirik sekilas ke halaman rumahnya yang memang terlihat jelas dari jendela kamarnya. Ia melihat sebuah Fortuner berwarna hitam terparkir rapi di sana. Ia yakin sekali pernah melihat mobil itu. Tapi dimana? Dengan rasa penasaran yang kian membuncah ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
                Lima belas menit kemudian Vannesa sudah berpakaian lengkap. Kaos longgar bergambar Spongebob berwarna putih dipadu dengan celana pendek berwarna krem membalut tubuh rampingnya.
                Vannesa menaburkan sedikit bedak bayi pada wajahnya yang putih mulus. Gadis cantik ini memang menyadari kecantikan wajahnya, namun, ia tidak besar kepala tiap kali mendengar pujian yang terlontar dari mulut orang lain.
                Setelah menyisir rambut panjangnya yang sedikit ikal pada ujung-ujungnya, Vannesa melangkah keluar kamar. Ia menuruni tangga dan melihat Lucia, kepala pembantu di rumah mewahnya sedang menata bunga Lily kesukaan mamanya.
                Vannesa berlari kecil ke arah perempuan asli Meksiko itu. Kepala pelayan ini bisa dibilang cukup dekat dengan neneknya yang juga keturunan Meksiko sejak ia tinggal di Indonesia dan ditinggal mati oleh suami tercintanya. Nenek Hevana yang saat itu mengetahui kesulitan ekonomi yang membelit Lucia akhirnya memutuskan untuk mengajaknya bekerja di rumah putra sulungnya. Sejak saat itu, Lucia merasa berhutang budi pada Hevana yang telah menolongnya.
                Vannesa menepuk pundak Lucia pelan, “Morning, Lucia. Where’s mom?” ucapnya ceria.
                “She went to her boutique this morning. Ah, ya! Ada yang mencarimu. Laki-laki tampan yang sepertinya temanmu,” jelas Lucia dengan mata berbinar-binar. “Atau mungkin pacarmu?” lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya jahil. Perempuan berumur 47 tahun itu sudah menganggap Vannesa seperti anaknya sendiri, begitu pula sebaliknya.
                “Ya, Bang Reno udah ngasih tau tadi. Dimana dia?” Vannesa bertanya seraya melongokan kepalanya ke arah ruang keluarga yang berada di dekat ruang tamu.
                “Tadi aku menyuruhnya untuk menunggumu di ruang tamu. Mungkin ia masih ada di sana,” jawabnya.
                Vannesa tersenyum pada Lucia dan melangkah menuju ruang tamu. Ia langsung terperangah ketika mendapati siapa yang tengah duduk di sofa besar ruangan tersebut. Matanya membelalak kaget dan mulutnya menganga lebar selama beberapa detik.
                “LO?!” jeritnya.
                “Morning, sweety,” ucap lelaki tersebut.
                Dengan perasaan bingung bercampur kesal Vannesa mendekati lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Stevent. “Mau apa lo ke sini? Tau darimana lo alamat rumah gue? Tadi lo ketemu abang gue, ya?!” Vannesa melotot horror saat mengucapkan kalimat terakhir.
                “Hei, calm down, babe. Segitu kangennya lo sama gue,” bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis di depannya, Stevent malah menggoda Vannesa.
                “Gue nanya untuk dijawab!” balas Vannesa sinis.
                Stevent harus mati-matian menahan tawanya agar tidak keluar karena melihat mimik muka Vannesa saat marah. Lucu, pikirnya. “Oke..oke. Gue akan jawab pertanyaan lo tadi. Pertama, gue ke sini mau ngajak lo jalan. Lo nggak ada acara, kan, hari ini? Kedua, nggak penting gue tau alamat rumah lo dari siapa, yang penting, gue sampe sini dalam keadaan sehat walafiat. Nggak kekurangan apapun.  Terakhir, iya, gue ketemu abang lo,” jelasnya panjang lebar.
                Vannesa segera menetralkan emosinya. Entah kenapa, sejak ia kenal dengan lelaki satu ini emosinya susah untuk dikontrol. “Mampus,” Vannesa menepuk jidatnya sendiri dengan pandangan menghadap pintu utama rumah ini. Membuat Stevent mengikuti arah pandangnya dengan kening berkerut, namun ia tak menemukan apapun di sana selain halaman depan yang cukup hijau dengan beberapa pohon cemara di sekitarnya.
                “Kenapa?” tanya Stevent penasaran.
                “Nggak,” jawab Vannesa singkat. Kayaknya gue harus nyiapin mental buat ntar malem, nih. Bang Reno pasti—dengan senang hati—akan membahas si kutu kupret satu ini di depan Mama-Papa. Siaaall, gerutunya dalam hati.
                “Ness, are you okay?” Vannesa tersentak kaget saat melihat tangan Stevent yang sengaja digoyang-goyangkan pemiliknya tepat di depan wajahnya. Ia mendelik sebal ke arah lelaki yang sedang memperhatikannya dengan tatapan yang.. entahlah.
                Stevent kembali duduk di sofa terdekat seraya bertanya, “Lo nggak ada acara, kan, hari ini?” Vannesa mengikutinya duduk di sofa yang agak jauh darinya.
                “Penting gitu buat lo, gue ada acara atau nggak?” jawab Vannesa ketus. Ia  sudah berniat memanggil satpam yang sedang berjaga di pos depan untuk menyeret Stevent keluar dari rumahnya. Namun, ia segera mengurungkan niat tersebut karena malas membuat keributan di rumahnya sendiri.
                “Penting!” balas Stevent dengan nada tak terbantahkan dan mata yang menyorot tajam. Vannesa sedikit kaget atas kelakuan Stevent barusan.
                Stevent melihat Vannesa mengambil napas panjang dan mengeluarkannya melalui mulut sebelum menjawab, “Gue NGGAK ada acara hari ini. Kenapa?” Vannesa sengaja menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
                “Berarti lo harus nemenin gue jalan.”
                Vannesa segera berdiri dari tempatnya duduk seraya mengangkat kedua tangannya sebatas dada, “Sejak kapan nemenin lo jalan menjadi suatu kewajiban buat gue?”
                “Sejak kita pacaran,” balas Stevent dengan gaya santainya yang membuat Vannesa naik darah seketika.
                Vannesa menggeram kesal. Ia berpikir cepat, kira-kira benda apa yang bisa ia lemparkan ke arah orang yang ngeselinnya setengah hidup ini! Sayang, benda-benda di sekelilingnya cukup berharga bagi sang mama untuk ia jadikan ‘korban’ kemarahannya.
                “Kampret banget, sih, lo!”
                “Aha! Watch your words, lady!” Stevent menatap tajam Vannesa ketika ia mendengar umpatan yang keluar dari mulut gadis itu. Walaupun pelan, telinga Stevent yang cukup tajam ini dapat menangkap kata-kata tadi.
                Dengan wajah kesal, Vannesa menghentakan kakinya ke lantai dan berbalik menuju kamarnya di lantai dua. “Stay there for thirty minutes!
                “With pleasure, babe.” Stevent membungkukan badannya ala pengawal kerajaan di dongeng-dongeng seraya menahan tawanya.
******************************************************************************
Kalau ada yang bilang hidup ini indah dengan kehadiran seorang kekasih, Vannesa pasti menjadi orang pertama yang menentangnya. Apanya yang indah kalau ia punya kekasih macam Stevent? Makhluk ini membuatnya membayangkan seberapa berantakannya masa-masa SMA-nya nanti. Membayangkannya saja sudah membuat mata Vannesa menatap Stevent dengan tajam.
                “Ada awpah?” tanya Stevent dengan mulut penuh makanan. Ia merasa diperhatikan sejak tadi. Dan benar saja, Vannesa sedang memperhatikannya dengan tatapan setajam pisau ketika ia memalingkan wajahnya dari panggangan di hadapan mereka. Mereka sedang berada di sebuah restaurant Jepang yang nyaman milik tante Stevent.
                Vannesa mendengus sebal dan memasukan daging sapi cincang ke dalam panggangan yang telah kosong setelah sebelumnya dicelupkan ke dalam saus berisi wijen. “Nggak,” jawabnya ketus.
                “Bowhong.”
                “Lebih baik semua makanan yang ada dalam mulut lo itu masuk dulu ke perut baru lo boleh ngomong!” Setelah menelan semua makanan yang ada di mulutnya Stevent meletakan sumpitnya di atas meja.
                “Lo kenapa dari tadi ngeliatin gue kayak gitu? Kayak mau nelen gue hidup-hidup,” Stevent mengucapkannya dengan suara rendah dan menaikan sebelah alisnya. Cukup membuat Vannesa menelan ludahnya sendiri melihat ini.
                “Gue mau pulang!”
                “Nggak, setelah ini lo temenin gue nyari sepatu dulu,”  tandas Stevent.
                Mendengar kalimat bernada final itu terlontar dari mulut Stevent membuat Vannesa diam. “Lo udah kelar belum?” pertanyaan Stevent itu membuat Vannesa sedikit tergeragap. Ia mengangguk kaku kepada Stevent dan melihat cowok itu bangkit dari kursinya menuju kasir. Vannesa segera memasukan ponselnya ke dalam tas dan menyusul Stevent di kasir.
******************************************************************************
Cause you had a bad day
You’re taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don’t know
You tell me don’t lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
The camera don’t lie
You’re coming back down and you really don’t mind
You had a bad day
You had a bad day
Daniel Powter – Bad Day

“Cariin gue sepatu olahraga yang bagus. Gue lagi males milih-milih,” ucap Stevent ketika mereka sampai di toko sepatu langganannya. Seketika Vannesa melongo dibuatnya.
                “Hah? Nyariin lo sepatu? Nggak salah apa tuh? Ukuran dan selera sepatu lo aja gue nggak tau!” protesnya.
                “Ukuran gue 43, soal selera gue terima apa yang jadi pilihan lo. Terserah lo pilih yang mana, gue tinggal iya-iya aja.” Stevent memilih duduk manis di sofa kecil yang sengaja disediakan pihak toko bagi para pelanggan dan memainkan iPhone miliknya.
                Err...
                Vannesa mendelik sebal ke arah manusia menyebalkan itu dan mulai memilih-milih Adidas mana yang cocok dipakai Stevent untuk olahraga. Setelah lima belas menit muter-muter nggak jelas hanya untuk memilih sepatu yang ia suka desainnya, Vannesa mendapatkan apa yang jadi pilihannya.
                Sebuah sepatu bertali dan berwarna putih dengan sentuhan garis tipis berwarna biru di sisi kanan dan kirinya. Simple namun tidak terkesan ‘biasa’. Yah, walaupun warnanya yang putih itu dapat memperlihatkan noda yang kapanpun bisa menempel. Namun ia menyukai garis tipis berwarna biru muda yang terlihat ‘segar’ di matanya.
                “Mbak, saya minta yang ini nomor 43, ya,” pinta Vannesa pada seorang pelayan toko yang berdiri tak jauh darinya.
                “Mohon tunggu sebentar ya, kak,” si pelayan toko tersenyum ramah kepada Vannesa. Vannesa mengiyakan dengan mengangguk dan tersenyum manis kepada si pelayan tadi. Sembari menunggu, ia melihat-lihat deretan Adidas yang tertata rapi di dinding.
                Tak lama kemudian si pelayan toko yang ia ketahui bernama Rini (hasil ngintip name tag-nya) kembali dengan membawa kotak yang berukuran agak lebar kepadanya.
                “Silakan dicoba, kakak.” Vannesa menerima kotak tersebut dan menghampiri Stevent yang masih betah sama iPhonenya
                “Nih, coba!” Vannesa mengambil ponsel pintar di tangan Stevent dan menyerahkan kotak sepatu tersebut padanya.
                “Itu ukurannya 43, kan?” tanya Stevent tanpa perlu repot-repot mencoba sepatu tersebut. Ia berusaha mengambil ponselnya yang ‘disita’ si pacar.
                “Iya, tapi lo coba dulu kenapa, sih?” Vannesa menjauhkan ponsel tersebut dari jangkauan sang pacar. Kalo Steve nggak suka sama pilihannya karena nggak nyoba dulu, bagaimana? Kan mubazir!
                “Kan, udah gue bilang, gue terima apa aja yang lo pilihin. Gue percaya kok sama apa yang jadi pilihan lo. Aduh, itu hp gue siniin kenapa, sih?!” Stevent menggerutu karena  Vannesa tak kunjung memberikan ponselnya. Vannesa mengumpat dalam bahasa neneknya yang untungnya tak terdengar oleh pacarnya ini.
                “Ya udah, kalo gitu lo bayar deh, nih! Gue tunggu di luar!” seru Vannesa kesal seraya menyerahkan kotak sepatu tersebut kepada Stevent.
                Lah? Ngambek dia? Stevent melongo dibuatnya. Segitu galaknya Vannesa, tapi gadis ini bisa ngambek juga, toh?
                “Pacarnya ngambek ya, Mas?” suara si pelayan yang memberikan sepatu ke Vannesa membuyarkan pemikiran Stevent.
                “Ha? Iya, Mbak. Hehe..” Stevent bingung harus menjawab apa dan hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Senyum si pelayan mengembang melihat reaksi Stevent yang tergaragap menjawab pertanyaannya.
                “Susulin atuh, Mas. Dibujuk biar nggak ngambek lagi,” saran si pelayan toko.
                “Iya, Mbak. Ya udah, saya ambil yang ini, ya,” Stevent menyerahkan kotak sepatu tersebut tanpa melihat isinya terlebih dahulu.
                “Nggak mau dicoba dulu, Mas?”
                “Nggak usah. Saya percaya kok kalo isi kotak itu cocok untuk saya. Biar nanti jadi kejutan aja di rumah,” sahut Stevent disertai senyuman lebarnya yang sanggup membuat jantung si mbak-mbak mencelos.
                Vannesa menunggu dengan tidak sabar di luar toko. Wedges setinggi 5 cm yang ia kenakan hari ini menghasilkan bunyi ketukan karena kakinya yang bergerak-gerak tak sabaran. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang dan membuatnya terkejut. Ketika ia membalikan badan untuk melihat siapa yang mengagetkannya, Stevent memberikan senyuman terlebarnya. “Elo tuh, ya! Ngagetin aja bisanya!” seru Vannesa kesal.
                “Lo kenapa, sih? Sensi amat kayaknya hari ini? Lagi PMS?” tanya Stevent heran.
                Vannesa mendelik sebal ke arah Stevent seraya melangkah menuju lobby utama mall besar ini. “Emangnya kalo gue sensi itu berarti gue lagi PMS, gitu?” Vannesa bertanya balik. Sebal dia. Pemikiran dari mana coba kalau cewek sensi itu berarti mereka lagi PMS? Hhh.. Nggak Stevent, nggak kakak gue sama aja pemikirannya!
                “Yaaa, nggak tau juga. Gue kan cuma asal nebak aja,” sahut Stevent. Vannesa berhenti berjalan dan berdiri menghadap manusia ini, “Denger, ya, Tuan Stevent Varezo Natanegara. Nggak semua perempuan yang sensi itu lagi PMS, dan dalam kasus gue, sensi gue ini bukan disebabkan oleh PMS. Melainkan elo!” jelasnya ketus.
                “Oke..oke. Daripada lo ngomel-ngomel terus, mending sekarang kita cabut ke mobil. Udah mulai gerimis, nih,” Stevent melongokan kepalanya keluar pintu lobby dan melihat awan di atas sana yang sudah mulai menghitam dan suara petir yang bergemuruh kencang.

                Vannesa mendengus kesal dan mengikuti langkah lebar Stevent menuju mobil.

No comments:

Post a Comment