Part 1 – Senior Sialan!
“Non.. Ini makanannya, Bik Icah tarok
sini ya.”
“Oh,
iya, Bik. Makasih, ya,” ucap seorang gadis yang sedang sibuk menyisir rambutnya
tanpa mengalihkan tatapan dari cermin besar dihadapannya. Pembantu rumah tangga
tersebut segera pamit keluar dari kamar berukuran besar itu.
Sepeninggal
Bik Icah, gadis itu meneguk susu putih yang ada di gelas dan mencomot sepotong
roti bakar. Setelah selesai dengan sarapannya, ia kembali mematut diri di depan
cermin. Dengan sedikit tergesa-gesa ia
memoles wajahnya dengan bedak bayi yang wanginya sangat ia sukai.
Setelah
siap, gadis cantik keturunan Minangkabau-Meksiko ini turun ke lantai satu rumah
mewahnya. Ia melihat kedua abangnya tengah duduk manis di ruang makan. Mereka
berdua terlihat sibuk dengan sarapannya masing-masing.
“Bang
Reno, pagi ini ke kampus gak?” tanyanya.
“Nggak,
Ness. Gue ke kampusnya siang, kenapa?” lelaki tampan yang dipanggil Reno ini mengernyit
heran melihat adik bungsunya yang sejak tadi sudah heboh sendiri. Entah karena
ia bangun kesiangan atau apa, Reno tidak tahu masalahnya.
Vannesa
menggerutu tidak jelas sebelum akhirnya beralih kepada satu lagi makhluk yang
sedari tadi hanya menatap dirinya dari atas sampai bawah. “Bang Ceno, pagi ini
ngampus nggak? Kalo ngampus gue bareng dong. Udah telat, nih,” Vannesa sengaja
memasang wajah memelas andalannya yang dapat meluluhkan hati kedua abangnya ini.
“Iya,
gue ngampus, dek. Emang lo kenapa bisa kesiangan, sih? Nggak biasanya,” Ceno Al
Farizi—anak kedua di keluarga Admiral Martadinata—menatapnya dengan satu alis
terangkat.
“Don’t ask me anything now. Yang penting
sekarang Bang Ceno cepetan abisin sarapannya, gue udah telat, nih. Hari ini gue
MOS hari kedua, bisa berabe kalo sampe telat,” gerutunya.
Ceno
menangkupkan sendok dan garpunya di atas piring nasi gorengnya seraya berkata,
“Calm down, princess. I’ve done with my
breakfast. So, shall we go now?” Ia mempersilakan adiknya untuk jalan di
depannya dengan gaya ala pengawal kerajaan.
“Ayooooooo!!”
Vannesa segera berlari ke garasi rumahnya, meninggalkan Reno dan Ceno yang
tertawa melihat tingkahnya.
“She must be get a man who can balance her,”
ucap Reno setelah tawanya berhenti yang ditanggapi dengan anggukan singkat Ceno
sebelum menghilang ke garasi.
******************************************************************************
Dammit! Gue telat banget, rutuk Vannesa dalam hatinya. Dengan diiringi tatapan
kagum dari para cowok di lapangan ia maju ke hadapan ketua OSIS yang
memanggilnya karena terlambat.
“Kamu
kenapa telat?” tanya si ketua OSIS dengan nada tegas. Vannesa sampai merasa si
ketua ini sedang menginterogasi dirinya seperti ia ini anak gadisnya yang
pulang terlalu larut.
Tanpa
menunjukan rasa takutnya Vannesa menjawab, “Maaf, kak. Saya terlambat karena
bangun kesiangan dari jadwal biasanya, ditambah lagi macetnya Jakarta yang
ampun-ampunan...”
Belum
selesai ia berbicara, si ketua menyelanya, “Kalo udah tau Jakarta macet kenapa
masih bangun kesiangan??” Si ketua menaikan nada suaranya satu oktaf. Tetap
dengan wibawanya yang membuat Vannesa ingin muntah seketika.
“HP
saya dari semalem error, kak, jadi alarmnya nggak hidup. Jam weker saya juga
lagi rusak. Dan tidur saya pulas banget, kak, pake mimpi juga. Sampe saya nggak
denger suara ketukan pintu kamar sama teriakan dari pembantu yang ngebangunin
saya. Tau-tau pas saya bangun, pembantu saya bilang udah jam setengah enam lewat sepuluh. Jadinya
saya kesiangan, deh,” jelas Vannesa dengan memasang wajah polosnya. Sepolos
mungkin agar si ketua bawel ini mempercayai penjelasannya.
Sebenarnya
alasan yang ia buat tidak sepenuhnya jujur. Pagi tadi ia sudah bangun seperti
jadwal biasanya. Namun, ketika teringat hari ini adalah hari keduanya MOS di
SMA Multi Bangsa ia kembali merebahkan diri di kasur dan mematikan alarm di
ponsel pintarnya. Vannesa terlalu malas mengikuti MOS yang diadakan OSIS
sekolah barunya. Ketika terdengar suara ketukan pintu kamar yang membuat
dirinya terbangun, jam sudah menunjukan pukul setengah enam lewat sepuluh.
Si
ketua—yang menurutnya memiliki tampang lumayan—masih memperhatikannya dari atas
sampai bawah dengan padangan kesal. “Terlalu banyak alesan,” geramnya. “Kamu
gabung sama yang lain di sana, di pos khusus siswa baru yang telat.” Ketua OSIS
ini menunjuk ke arah gerombolan murid-murid yang terlambat dan dijaga oleh dua
orang temannya.
“Oke,
kak,” jawabnya seraya melenggang santai ke pos siswa baru yang terlambat. Si
ketua menatap punggungnya yang menjauh dengan kesal, baru kali ini ada adik
kelas yang membuat banyak alasan ketika terlambat datang saat MOS—dan
menjelaskannya dengan santai tanpa rasa takut atau gugup sekalipun.
******************************************************************************
“Minta tanda tangan?”
“Iya.
Dari tadi kan saya udah bilang, kalau saya minta tanda tangan kakak!” Habis
sudah kesabaran Vannesa menghadapi senior di hadapannya ini.
Laki-laki
di depannya menatapnya seraya berpikir sejenak. Lalu, “Siapa yang nyuruh lo
minta tanda tangan gue?” tanyanya.
Vannesa
menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya lewat mulut sebelum menjawab,
“Kak Andi yang nyuruh.”
Kalau kayak gini caranya, gue nyesel deh
ikut MOS hari ini! Udah panas, mandi keringet, masih harus ikut ujian kesabaran
sama senior kupret satu ini pula! Vannesa ngedumel sendiri dalam hati
seraya menatap jengkel lelaki berwajah tampan yang sedang melipat tangannya di
depan dada.
Sementara
itu, laki-laki yang dimintai tanda tangannya
oleh Vannesa sedang mati-matian menahan tawanya karena melihat tampang
Vannesa. Semburat merah yang muncul di
wajah gadis ini menandakan ia sedang menahan emosi dan itu makin mempercantik
dirinya di mata lelaki ini.
“Well, gue akan ngasih lo tanda tangan,
asal lo ikutin kemauan gue.”
“Aduh.
Kenapa harus pake acara nurutin kemauan dia, sih?” keluh Vannesa pelan. Mungkin
kurang pelan karena senior berwajah blasteran ini menaikan sebelah alisnya dan
menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. “Oh, jadi lo nggak mau ikutin
kemauan gue, nih, ceritanya? No problem, lo gak ikutin kemauan gue, itu artinya
nggak ada tanda tangan!” tandasnya langsung. “Toh, nggak ada ruginya juga kok
buat gue,” lanjutnya.
Lelaki
berhidung macung dengan tatapan mata yang jahil tersebut melenggang pergi dari
hadapan Vannesa yang masih berdiam diri. Vannesa bingung. “Gue harus nurutin
kemauan dia gitu? Tapi kalo gue nggak nurutin dan nggak dapet tanda tangannya,
Kak Andi bakal ngehukum gue,” ujar Vannesa kepada dirinya sendiri.
“Saya
ikutin kemauan Kak Stevent!” teriakan Vannesa berhasil menghentikan langkah kaki
lelaki yang dipanggilnya Stevent tadi.
Stevent
tersenyum menang sebelum ia berbalik untuk menatap Vannesa. Dengan langkah
pelan—yang bagi Vannesa terlalu didramatisir—ia menghampiri Vannesa yang kini
tengah mengerucutkan bibirnya.
Dalam
hati Vannesa berdoa supaya Stevent tidak memintanya melakukan hal yang
aneh-aneh hanya untuk mendapatkan tanda tangannya. Emangnya dia pikir dia artis sampe gue harus nurutin keinginan dia cuma
buat seonggok tanda tangan?!
Stevent
mengarahkan wajahnya ke telinga Vannesa dan membisikannya sesuatu. Sesuatu yang
mampu membuat gadis cantik di depannya menjerit dan melotot horror.
“WHAT
THEEE—?!”
******************************************************************************
Jam istirahat tiba dan saat ini
Vannesa sedang berada di tengah lapangan basket, menatap tajam Stevent yang
berdiri tak jauh dari hadapannya. Berdiri dengan—ehem!—gaya cool-nya dan menatap dirinya dengan
tatapan jail nan menggoda.
Beberapa
murid mulai mengelilingi mereka karena penasaran atas gerangan apa yang membuat
seorang senior tampan dan juniornya yang cantik berdiri di tengah-tengah
lapangan basket SMA Multi Bangsa. Vannesa merutuk dalam hati karena murid yang
ada di sekitar mereka jumlahnya terus bertambah. Itu wajar mengingat sekarang
sedang jamnya istirahat dan lapangan ini berada di dekat kantin. Otomatis, para
murid yang sedang dalam perjalanan menuju kantin maupun ke lapangan basket dapat
melihat mereka.
Mario,
salah satu sahabat Stevent menghentikan langkahnya sejenak. Ia terkena sindrom
penasaran juga dan memutuskan untuk menerobos kerumunan siswa yang bejibun. Apa
yang ia lihat sekarang membuatnya bingung sekaligus penasaran akut.
Tiba-tiba
sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya mengejutkan dirinya, “Yo, lo ngerti
nggak sama jalan pemikiran Steve?” seketika Mario menoleh ke sumber suara
tersebut, dan dengan senang hati ia meninju lengan si pemilik suara tadi. Cukup
keras hingga membuat lelaki di sebelahnya meringis kesakitan.
“Kampret,
lo! Kenapa, sih, lo bisanya ngagetin gue mulu, Ram? Kalo tadi gue kena serangan
jantung, gimana? Orang tua gue, kan, masih sayang sama gue,” Mario menjerit
dengan lebaynya. Membuat beberapa orang di sekeliling mereka menoleh dan
menyuruhnya diam.
“Sorry,” hanya itu yang dapat Mario
katakan disertai cengiran lebarnya—yang kalau dilihat para gadis, pasti akan
membuat mereka terpesona.
Laki-laki
yang dipanggilnya Ram tadi kembali membuka suara, “Berisik lo, kayak knalpot!”
cibirnya. Rama yang sudah bersahabat dengan Mario—juga Stevent—selama enam
tahun membuatnya terbiasa mengeluarkan kalimat cibiran terhadap sahabat
bawelnya satu ini.
“Siapa
suruh lo ngagetin gue, heh?!” seru Mario dongkol. Bukan apa-apa, ini adalah
kesekian kalinya Rama mengejutkan dirinya dengan cara berbicara tiba-tiba
seperti tadi.
“Lebay
lo, ah, kayak cewek. Back to my question,
lo ngerti nggak sama jalan pemikiran Steve?”
“Hah?
Maksud lo?”
“Ck!
Makanya kalo punya otak tuh jangan dipake buat mikir fisika sama cewek aja!”
cibir Rama. “Lemot kan jadinya,” lanjutnya.
“Sompret,
lo! Gue sih emang nggak pernah ngerti sama jalan pikiran tuh bocah. Tapi,
delapan tahun temenan sama dia bikin gue tau apa arti kalo dia udah ngeluarin
senyuman miring yang khas kayak gitu,” jelasnya seraya menatap sahabatnya di
tengah lapangan sana. Stevent mengangkat sebelah alisnya ketika tatapan mereka
bertumbukan, memberi kode lewat tatapan mata kepada kedua sahabatnya.
“That means, the game will start from now!”
Sementara
itu, di tengah lapangan yang sudah dipadati siswa yang gagal ke kantin dan
ingin bermain basket, Vannesa berusaha menormalkan air mukanya. Ia yakin
wajahnya yang putih mulus ini pasti sudah dihiasi semburat merah. Bagaimana
tidak? Stevent menyuruhnya untuk ‘menembak’ dirinya di tengah lapangan pada jam
istirahat. Hanya untuk sebuah tanda tangan. Tidak hanya itu, kalau nanti
Stevent menolaknya, ia harus berusaha agar Stevent mau menerimanya—karena itu
syarat agar ia mendapatkan tanda tangan—dan cara satu-satunya adalah dengan
merayu Stevent! Great!
“Yang
bener aja? Hanya untuk seonggok tanda tangan sialan itu gue harus mempermalukan
diri gue di depan umum?! Ask him to be my
boyfriend??? Udah gila kali dia!” omel Vannesa dalam hati. Namun, ia tak
bisa menghindar kalau tak mau hukumannya bertambah, sehingga dengan sangat
terpaksa ia menuruti kemauan Stevent.
“You must pay for all of this show, Kak Andi!”
desis Vannesa tajam. Kalau tidak gara-gara Andi, senior yang menghukumnya
dengan cara menyuruhnya untuk mencari orang bernama Stevent Varenzo dan meminta
tanda tangannya, Vannesa pasti tidak akan berada dalam kondisi seperti ini.
Tiba-tiba
Stevent membuka suaranya, “So, apa
alesan lo ngajak gue ke sini, Nona?” tatapannya menyiratkan tantangan pada
Vannesa.
“Err..
Kalo aja ada macan di sekitar sini, udah gue suruh tuh hewan buat nerkam nih
anak! Dengan catatan macannya harus cowok biar nggak terpesona sama wajahnya,”
ucap Vannesa dalam hati.
Gadis
ini menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan untuk mengulur waktu.
Akhirnya, setelah mengumpulkan keberaniannya Vannesa menjawab, “Ng.. Gue di
sini mau ngomong sesuatu sama lo, Kak Steve. Gue... Gue suka sama lo, dan.. gue..
pengen lo jadi cowok gue.” Vannesa memejamkan matanya ketika mengucapkan
kalimat terakhir.
Terdengar
siulan dari beberapa siswa laki-laki di belakangnya dan itu membuat wajah
Vannesa terasa panas. Ia yakin wajahnya sekarang pasti lebih merah dari
sebelumnya dan terlihat seperti kepiting goreng yang siap dihidangkan dengan
saus Padang andalan mamanya. Membayangkannya saja sudah membuat perut Vannesa
berbunyi mengingat pagi ini ia hanya sempat memakan sepotong roti bakar dan
meminum segelas susu putih. Ditambah dengan kejadian ini, membuat Vannesa tidak
dapat menyetuh kotak bekal yang tadi diberikan Lucia, kepala pembantu di
rumahnya, saat ia sudah duduk manis di mobil Ceno.
Stevent
berusaha menahan tawanya agar tidak meledak saat ini juga. Ia berdeham sebelum
menjawab, “Baru kali ini ada cewek yang berani nyatain perasaannya
terang-terangan ke gue, dan langsung minta gue jadi cowoknya pula! Such a brave girl!”
“Gue
berani juga karena paksaan lo, kampret!” Ingin sekali Vannesa mengucapkan
kalimat tersebut keras-keras agar para siswa yang berkumpul di sini tahu.
Namun, ia terpaksa menelan kembali kata-kata yang sudah ada di pangkal
tenggorokannya tersebut.
“Gimana,
kak? Kakak mau kan jadi pacar saya?” Vannesa mengucakannya dengan diiringi
senyum manis andalannya. Walaupun sebenarnya ia nggak ikhlas banget melepas
senyum termanisnya ini hanya demi laki-laki di hadapannya ini.
Seketika
Stevent membeku saat melihat senyum tersebut. “Gila! Nih cewek udah cantik,
senyumnya manis banget pula! Anjir, kalo gini caranya gue nggak bisa nolak, nih.
Steve, tenangkan diri lo. Inget, lo di sini karena satu tujuan: ngerjain junior
cantik di depan lo. Tapi, senyumnya tadi bikin gue jantung gue olahraga,” Stevent
berdebat dengan dirinya sendiri.
“Kak?
Hellooooo? Masih hidup kan?” tanya Vannesa sembari menggerak-gerakan tangan
kanannya di depan wajah Stevent. Seketika Stevent ‘sadar lingkungan’ dan
menatap Vannesa.
“Umm...
Kalo gue nggak mau jadi pacar lo, gimana?” tanya Stevent sambil memasang wajah
polosnya.
“WHAT?!”
Semua
mata kini tertuju pada Vannesa yang baru saja menutup mulutnya. Mereka berpikir
Vannesa kaget karena Stevent menolaknya dengan santai. Keadaan menjadi hening
seketika.
Tiba-tiba
Vannesa bersuara, “Nggak bisa gitu dong, kak! Saya tau kok, kalo kakak suka kan
sama saya? Saya udah sering ngeliat Kak Steve ngikutin saya dua bulan ini. Don’t be a liar!”
“Hah?”
Stevent melongo mendengar ucapan Vannesa barusan. Sejak kapan dia ngikutin
gadis cantik ini? Kenal juga baru tadi.
Di
pinggir lapangan, Mario dan Rama setengah mati menahan tawanya yang sudah siap
menyembur keluar karena melihat wajah bego Stevent akibat umpan balik yang
dilemparkan Vannesa. Kedua sudut bibir Vannesa tertarik ke atas, membentuk
senyum misterius yang membuat Stevent sadar.
Whoa! You play with wrong man, lady,
ucap Stevent dalam hatinya. “Oh, ya? Jadi lo udah tau kalo selama ini gue
sering ngikutin lo? Yah, ketauan deh. Hmm..” Stevent bergumam tidak jelas
diakhir kalimatnya.
Vannesa
yang kaget mendengar umpannya dapat diatasi dengan baik oleh Stevent berusaha
menetralkan mimik wajahnya. Ia berusaha bersikap senormal mungkin. Be calm, Ness.
“Jadi,
gimana?” tanya Vannesa dengan memasang mimik muka berharap. Ia sudah muak
dengan segala drama ini.
“Well, karena lo udah tau semuanya dan..
gue emang suka sama lo, gue terima lo jadi cewek gue.” Vannnesa menghembuskan
napas lega saat mendengar kalimat barusan. Akhirnya
neraka kelar juga.
Di
hadapannya, Stevent mengeluarkan senyum misteriusnya. Tanpa Vannesa sadari,
Stevent mengawasi gerak-gerik gadis itu yang sedang menyingkir ke pinggir
lapangan. Ide—yang menurutnya—brilian mulai bermunculan di otaknya.
“Cabut,
guys!” teriak Stevent pada kedua
sahabatnya di pinggir lapangan sana.
Part 2 – Bad Day
Minggu pagi, waktu yang tepat untuk
bersantai setelah 6 hari dituntut untuk melahap semua pelajaran yang ada.
Vannesa menggeliat kecil di atas kasur berukuran queen miliknya.
“Nessaaaaaa!
Bangun lo!”
Vannesa
memejamkan matanya rapat-rapat. Berharap teriakan tadi hanyalah bagian dari
mimpi indahnya. Namun, harapannya hanya angan-angan semata. Pintu kamarnya
digedor dengan semangat 45 oleh seseorang yang sangat ia kenal baik.
“Kebo,
bangun! Ada yang nyariin lo tuh di bawah,” ucap suara berat di luar kamar.
“Siapa,
bang?” tanya Vannesa. Suaranya terdengar serak karena tenggorokannya kering.
Matanya mengerjap akibat sinar matahari yang masuk melalui celah kecil jendela
kamarnya yang tidak tertutup tirai.
“Nggak
tau. Tapi jenisnya cowok, tuh. Samperin, gih. Ada di ruang tamu di,” balas
Reno.
Vannesa
menguap sebentar sebelum menjawab, “Ask
him to wait for me, I’ll meet him after 20 minutes.”
“Okay, babe.” Terdengar suara langkah
kaki menjauhi pintu kamarnya. Vannesa mendesah pelan lalu turun dari ranjangnya.
Dengan cepat ia membuka tirai yang menutupi sebagian jendela kamar dan
menyambar handuk. Sebelum tangannya menyentuh handuk, ia melirik sekilas ke
halaman rumahnya yang memang terlihat jelas dari jendela kamarnya. Ia melihat
sebuah Fortuner berwarna hitam terparkir rapi di sana. Ia yakin sekali pernah
melihat mobil itu. Tapi dimana? Dengan rasa penasaran yang kian membuncah ia
segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Lima
belas menit kemudian Vannesa sudah berpakaian lengkap. Kaos longgar bergambar
Spongebob berwarna putih dipadu dengan celana pendek berwarna krem membalut
tubuh rampingnya.
Vannesa
menaburkan sedikit bedak bayi pada wajahnya yang putih mulus. Gadis cantik ini
memang menyadari kecantikan wajahnya, namun, ia tidak besar kepala tiap kali
mendengar pujian yang terlontar dari mulut orang lain.
Setelah
menyisir rambut panjangnya yang sedikit ikal pada ujung-ujungnya, Vannesa
melangkah keluar kamar. Ia menuruni tangga dan melihat Lucia, kepala pembantu
di rumah mewahnya sedang menata bunga Lily kesukaan mamanya.
Vannesa
berlari kecil ke arah perempuan asli Meksiko itu. Kepala pelayan ini bisa dibilang
cukup dekat dengan neneknya yang juga keturunan Meksiko sejak ia tinggal di
Indonesia dan ditinggal mati oleh suami tercintanya. Nenek Hevana yang saat itu
mengetahui kesulitan ekonomi yang membelit Lucia akhirnya memutuskan untuk
mengajaknya bekerja di rumah putra sulungnya. Sejak saat itu, Lucia merasa
berhutang budi pada Hevana yang telah menolongnya.
Vannesa
menepuk pundak Lucia pelan, “Morning,
Lucia. Where’s mom?” ucapnya ceria.
“She went to her boutique this morning.
Ah, ya! Ada yang mencarimu. Laki-laki tampan yang sepertinya temanmu,” jelas
Lucia dengan mata berbinar-binar. “Atau mungkin pacarmu?” lanjutnya sambil
mengedipkan sebelah matanya jahil. Perempuan berumur 47 tahun itu sudah
menganggap Vannesa seperti anaknya sendiri, begitu pula sebaliknya.
“Ya,
Bang Reno udah ngasih tau tadi. Dimana dia?” Vannesa bertanya seraya melongokan
kepalanya ke arah ruang keluarga yang berada di dekat ruang tamu.
“Tadi
aku menyuruhnya untuk menunggumu di ruang tamu. Mungkin ia masih ada di sana,” jawabnya.
Vannesa
tersenyum pada Lucia dan melangkah menuju ruang tamu. Ia langsung terperangah
ketika mendapati siapa yang tengah duduk di sofa besar ruangan tersebut.
Matanya membelalak kaget dan mulutnya menganga lebar selama beberapa detik.
“LO?!”
jeritnya.
“Morning, sweety,” ucap lelaki tersebut.
Dengan
perasaan bingung bercampur kesal Vannesa mendekati lelaki yang tak lain dan tak
bukan adalah Stevent. “Mau apa lo ke sini? Tau darimana lo alamat rumah gue?
Tadi lo ketemu abang gue, ya?!” Vannesa melotot horror saat mengucapkan kalimat
terakhir.
“Hei, calm down, babe. Segitu kangennya
lo sama gue,” bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis di depannya,
Stevent malah menggoda Vannesa.
“Gue
nanya untuk dijawab!” balas Vannesa sinis.
Stevent
harus mati-matian menahan tawanya agar tidak keluar karena melihat mimik muka
Vannesa saat marah. Lucu, pikirnya. “Oke..oke. Gue akan jawab pertanyaan lo
tadi. Pertama, gue ke sini mau ngajak lo jalan. Lo nggak ada acara, kan, hari
ini? Kedua, nggak penting gue tau alamat rumah lo dari siapa, yang penting, gue
sampe sini dalam keadaan sehat walafiat. Nggak kekurangan apapun. Terakhir, iya, gue ketemu abang lo,” jelasnya
panjang lebar.
Vannesa
segera menetralkan emosinya. Entah kenapa, sejak ia kenal dengan lelaki satu
ini emosinya susah untuk dikontrol. “Mampus,” Vannesa menepuk jidatnya sendiri
dengan pandangan menghadap pintu utama rumah ini. Membuat Stevent mengikuti
arah pandangnya dengan kening berkerut, namun ia tak menemukan apapun di sana
selain halaman depan yang cukup hijau dengan beberapa pohon cemara di sekitarnya.
“Kenapa?”
tanya Stevent penasaran.
“Nggak,”
jawab Vannesa singkat. Kayaknya gue harus
nyiapin mental buat ntar malem, nih. Bang Reno pasti—dengan senang hati—akan
membahas si kutu kupret satu ini di depan Mama-Papa. Siaaall, gerutunya
dalam hati.
“Ness, are you okay?” Vannesa tersentak
kaget saat melihat tangan Stevent yang sengaja digoyang-goyangkan pemiliknya
tepat di depan wajahnya. Ia mendelik sebal ke arah lelaki yang sedang
memperhatikannya dengan tatapan yang.. entahlah.
Stevent
kembali duduk di sofa terdekat seraya bertanya, “Lo nggak ada acara, kan, hari
ini?” Vannesa mengikutinya duduk di sofa yang agak jauh darinya.
“Penting
gitu buat lo, gue ada acara atau nggak?” jawab Vannesa ketus. Ia sudah berniat memanggil satpam yang sedang
berjaga di pos depan untuk menyeret Stevent keluar dari rumahnya. Namun, ia
segera mengurungkan niat tersebut karena malas membuat keributan di rumahnya
sendiri.
“Penting!”
balas Stevent dengan nada tak terbantahkan dan mata yang menyorot tajam.
Vannesa sedikit kaget atas kelakuan Stevent barusan.
Stevent
melihat Vannesa mengambil napas panjang dan mengeluarkannya melalui mulut
sebelum menjawab, “Gue NGGAK ada acara hari ini. Kenapa?” Vannesa sengaja
menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Berarti
lo harus nemenin gue jalan.”
Vannesa
segera berdiri dari tempatnya duduk seraya mengangkat kedua tangannya sebatas
dada, “Sejak kapan nemenin lo jalan menjadi suatu kewajiban buat gue?”
“Sejak
kita pacaran,” balas Stevent dengan gaya santainya yang membuat Vannesa naik
darah seketika.
Vannesa
menggeram kesal. Ia berpikir cepat, kira-kira benda apa yang bisa ia lemparkan
ke arah orang yang ngeselinnya setengah hidup ini! Sayang, benda-benda di
sekelilingnya cukup berharga bagi sang mama untuk ia jadikan ‘korban’
kemarahannya.
“Kampret
banget, sih, lo!”
“Aha! Watch your words, lady!” Stevent
menatap tajam Vannesa ketika ia mendengar umpatan yang keluar dari mulut gadis
itu. Walaupun pelan, telinga Stevent yang cukup tajam ini dapat menangkap
kata-kata tadi.
Dengan
wajah kesal, Vannesa menghentakan kakinya ke lantai dan berbalik menuju
kamarnya di lantai dua. “Stay there for
thirty minutes!”
“With pleasure, babe.” Stevent
membungkukan badannya ala pengawal kerajaan di dongeng-dongeng seraya menahan tawanya.
******************************************************************************
Kalau ada yang bilang hidup ini indah
dengan kehadiran seorang kekasih, Vannesa pasti menjadi orang pertama yang
menentangnya. Apanya yang indah kalau ia punya kekasih macam Stevent? Makhluk
ini membuatnya membayangkan seberapa berantakannya masa-masa SMA-nya nanti.
Membayangkannya saja sudah membuat mata Vannesa menatap Stevent dengan tajam.
“Ada
awpah?” tanya Stevent dengan mulut penuh makanan. Ia merasa diperhatikan sejak
tadi. Dan benar saja, Vannesa sedang memperhatikannya dengan tatapan setajam
pisau ketika ia memalingkan wajahnya dari panggangan di hadapan mereka. Mereka
sedang berada di sebuah restaurant Jepang yang nyaman milik tante Stevent.
Vannesa
mendengus sebal dan memasukan daging sapi cincang ke dalam panggangan yang
telah kosong setelah sebelumnya dicelupkan ke dalam saus berisi wijen. “Nggak,”
jawabnya ketus.
“Bowhong.”
“Lebih
baik semua makanan yang ada dalam mulut lo itu masuk dulu ke perut baru lo boleh
ngomong!” Setelah menelan semua makanan yang ada di mulutnya Stevent meletakan
sumpitnya di atas meja.
“Lo
kenapa dari tadi ngeliatin gue kayak gitu? Kayak mau nelen gue hidup-hidup,”
Stevent mengucapkannya dengan suara rendah dan menaikan sebelah alisnya. Cukup
membuat Vannesa menelan ludahnya sendiri melihat ini.
“Gue
mau pulang!”
“Nggak,
setelah ini lo temenin gue nyari sepatu dulu,” tandas Stevent.
Mendengar
kalimat bernada final itu terlontar dari mulut Stevent membuat Vannesa diam.
“Lo udah kelar belum?” pertanyaan Stevent itu membuat Vannesa sedikit
tergeragap. Ia mengangguk kaku kepada Stevent dan melihat cowok itu bangkit
dari kursinya menuju kasir. Vannesa segera memasukan ponselnya ke dalam tas dan
menyusul Stevent di kasir.
******************************************************************************
Cause you had a bad day
You’re taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don’t know
You tell me don’t lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
The camera don’t lie
You’re coming back down and you really don’t mind
You had a bad day
You had a bad day
You’re taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don’t know
You tell me don’t lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
The camera don’t lie
You’re coming back down and you really don’t mind
You had a bad day
You had a bad day
Daniel Powter –
Bad Day
“Cariin gue sepatu olahraga yang
bagus. Gue lagi males milih-milih,” ucap Stevent ketika mereka sampai di toko
sepatu langganannya. Seketika Vannesa melongo dibuatnya.
“Hah?
Nyariin lo sepatu? Nggak salah apa tuh? Ukuran dan selera sepatu lo aja gue
nggak tau!” protesnya.
“Ukuran
gue 43, soal selera gue terima apa yang jadi pilihan lo. Terserah lo pilih yang
mana, gue tinggal iya-iya aja.” Stevent memilih duduk manis di sofa kecil yang
sengaja disediakan pihak toko bagi para pelanggan dan memainkan iPhone
miliknya.
Err...
Vannesa
mendelik sebal ke arah manusia menyebalkan itu dan mulai memilih-milih Adidas
mana yang cocok dipakai Stevent untuk olahraga. Setelah lima belas menit
muter-muter nggak jelas hanya untuk memilih sepatu yang ia suka desainnya,
Vannesa mendapatkan apa yang jadi pilihannya.
Sebuah
sepatu bertali dan berwarna putih dengan sentuhan garis tipis berwarna biru di
sisi kanan dan kirinya. Simple namun tidak terkesan ‘biasa’. Yah, walaupun
warnanya yang putih itu dapat memperlihatkan noda yang kapanpun bisa menempel.
Namun ia menyukai garis tipis berwarna biru muda yang terlihat ‘segar’ di
matanya.
“Mbak,
saya minta yang ini nomor 43, ya,” pinta Vannesa pada seorang pelayan toko yang
berdiri tak jauh darinya.
“Mohon
tunggu sebentar ya, kak,” si pelayan toko tersenyum ramah kepada Vannesa.
Vannesa mengiyakan dengan mengangguk dan tersenyum manis kepada si pelayan
tadi. Sembari menunggu, ia melihat-lihat deretan Adidas yang tertata rapi di
dinding.
Tak
lama kemudian si pelayan toko yang ia ketahui bernama Rini (hasil ngintip name tag-nya) kembali dengan membawa
kotak yang berukuran agak lebar kepadanya.
“Silakan
dicoba, kakak.” Vannesa menerima kotak tersebut dan menghampiri Stevent yang
masih betah sama iPhonenya
“Nih,
coba!” Vannesa mengambil ponsel pintar di tangan Stevent dan menyerahkan kotak
sepatu tersebut padanya.
“Itu
ukurannya 43, kan?” tanya Stevent tanpa perlu repot-repot mencoba sepatu
tersebut. Ia berusaha mengambil ponselnya yang ‘disita’ si pacar.
“Iya,
tapi lo coba dulu kenapa, sih?” Vannesa menjauhkan ponsel tersebut dari
jangkauan sang pacar. Kalo Steve nggak suka sama pilihannya karena nggak nyoba
dulu, bagaimana? Kan mubazir!
“Kan,
udah gue bilang, gue terima apa aja yang lo pilihin. Gue percaya kok sama apa
yang jadi pilihan lo. Aduh, itu hp gue siniin kenapa, sih?!” Stevent menggerutu
karena Vannesa tak kunjung memberikan
ponselnya. Vannesa mengumpat dalam bahasa neneknya yang untungnya tak terdengar
oleh pacarnya ini.
“Ya
udah, kalo gitu lo bayar deh, nih! Gue tunggu di luar!” seru Vannesa kesal
seraya menyerahkan kotak sepatu tersebut kepada Stevent.
Lah?
Ngambek dia? Stevent melongo dibuatnya. Segitu galaknya Vannesa, tapi gadis ini
bisa ngambek juga, toh?
“Pacarnya
ngambek ya, Mas?” suara si pelayan yang memberikan sepatu ke Vannesa
membuyarkan pemikiran Stevent.
“Ha?
Iya, Mbak. Hehe..” Stevent bingung harus menjawab apa dan hanya menggaruk
tengkuknya yang tak gatal. Senyum si pelayan mengembang melihat reaksi Stevent
yang tergaragap menjawab pertanyaannya.
“Susulin
atuh, Mas. Dibujuk biar nggak ngambek lagi,” saran si pelayan toko.
“Iya,
Mbak. Ya udah, saya ambil yang ini, ya,” Stevent menyerahkan kotak sepatu
tersebut tanpa melihat isinya terlebih dahulu.
“Nggak
mau dicoba dulu, Mas?”
“Nggak
usah. Saya percaya kok kalo isi kotak itu cocok untuk saya. Biar nanti jadi
kejutan aja di rumah,” sahut Stevent disertai senyuman lebarnya yang sanggup
membuat jantung si mbak-mbak mencelos.
Vannesa
menunggu dengan tidak sabar di luar toko. Wedges
setinggi 5 cm yang ia kenakan hari ini menghasilkan bunyi ketukan karena
kakinya yang bergerak-gerak tak sabaran. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya
dari belakang dan membuatnya terkejut. Ketika ia membalikan badan untuk melihat
siapa yang mengagetkannya, Stevent memberikan senyuman terlebarnya. “Elo tuh,
ya! Ngagetin aja bisanya!” seru Vannesa kesal.
“Lo
kenapa, sih? Sensi amat kayaknya hari ini? Lagi PMS?” tanya Stevent heran.
Vannesa
mendelik sebal ke arah Stevent seraya melangkah menuju lobby utama mall besar
ini. “Emangnya kalo gue sensi itu berarti gue lagi PMS, gitu?” Vannesa bertanya
balik. Sebal dia. Pemikiran dari mana coba kalau cewek sensi itu berarti mereka
lagi PMS? Hhh.. Nggak Stevent, nggak kakak gue sama aja pemikirannya!
“Yaaa,
nggak tau juga. Gue kan cuma asal nebak aja,” sahut Stevent. Vannesa berhenti
berjalan dan berdiri menghadap manusia ini, “Denger, ya, Tuan Stevent Varezo
Natanegara. Nggak semua perempuan yang sensi itu lagi PMS, dan dalam kasus gue,
sensi gue ini bukan disebabkan oleh PMS. Melainkan elo!” jelasnya ketus.
“Oke..oke.
Daripada lo ngomel-ngomel terus, mending sekarang kita cabut ke mobil. Udah mulai
gerimis, nih,” Stevent melongokan kepalanya keluar pintu lobby dan melihat awan
di atas sana yang sudah mulai menghitam dan suara petir yang bergemuruh
kencang.
Vannesa
mendengus kesal dan mengikuti langkah lebar Stevent menuju mobil.

No comments:
Post a Comment