Part 3 – Jealous?
Stevent tidak dapat menyembunyikan
kebahagiaannya hari ini. Sesampainya di rumah setelah mengantarkan sang putri
(baca: Vannesa) ke istananya dengan selamat, ia segera membuka kotak sepatu
yang baru ia beli tadi. Dengan senyum yang setia bertengger di wajahnya, ia
mencoba sepatu tersebut. Dan hasilnya.. PAS! Sepatu tersebut sangat cocok dan pas
untuk dirinya pakai. Setelah berpose dengan gaya—sok—cool di depan cermin kamarnya—minus kamera, Stevent mengetik pesan
singkat melalui Whatsapp kepada gadisnya.
To: Vannesa
Babe, thanks for your gift today. I like it. Love you :*
Babe, thanks for your gift today. I like it. Love you :*
Tidak
ada balasan dari Vannesa. Stevent memilih untuk tidak mempermasalahkannya dan
menyimpan kembali sepatu tadi pada tempatnya. Tiba-tiba ponselnya berdering
tanda ada pesan Whatsapp yang masuk. Dengan cepat ia menyambar smartphone tersebut dan membaca isi
pesan dari Mario, teman sejawatnya.
Sender: Mario
Bro, bisa ketemuan sekarang, gak?
Bro, bisa ketemuan sekarang, gak?
Stevent
membalas pesan tersebut dengan kening yang terlipat.
To: Mario
Jgn sekarang deh, bro. Bsk aja gmn? Di café biasa.
Jgn sekarang deh, bro. Bsk aja gmn? Di café biasa.
Beberapa
detik kemudian Mario membalas pesan Stevent yang bermaksud menyetujui ide
sohibnya tersebut. Stevent merebahkan tubuhnya di kasur berukuran besar
miliknya dan memejamkan matanya. Detik berikutnya terdengar dengkuran halus
pertanda dirinya telah terbang ke alam mimpi.
******************************************************************************
“Iya, besok tanggal merah, kan? Kita
kumpul besok aja, gimana?” Vannesa sedang berbicara dengan sepupunya yang hanya
terpaut 2 tahun darinya ketika Ceno masuk ke kamarnya tanpa permisi.
Vannesa
mendelik sebal ke arah Ceno yang hanya dibalas cengiran lebar pemuda latino
tersebut. Ceno melemparkan tatapan siapa-yang-nelpon
kepada sang adik sementara sang adik memberi isyarat untuk diam melalui tatapan
matanya yang tajam.
“Oke,
deh. See you tomorrow, Uni Arlin!”
seru Vannesa dengan riang dan menyudahi pembicaraannya dengan si sepupu. Ceno
langsung bersiap membuka mulutnya untuk melontarkan pertanyaan ketika Vannesa
menyela, “Uni Arlin nelpon, katanya besok kita diajak kumpul di restoran
maminya yang di PIM. Udah lama kan kita nggak kumpul?” Ceno hanya menganggukan
kepalanya sambil terus memperhatikan sang adik.
Vannesa
melirik abangnya kesal. “Ya udah, apa lagi?” tanyanya ketika melihat tatapan
Ceno yang sepertinya minta dijelaskan isi percakapan via telpon barusan.
Ceno
langsung menampakan wajah cengengesannya—yang menurut Vannesa jelek
dipandang—dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Besok, yah? Jam berapa?”
“Jam
11,” balas Vannesa singkat.
“Pacar
lo nggak diajak? Kan lumayan tuh, lo kenalin dia ke semua sepupu Martadinata,”
ucap Ceno sambil mengedipkan sebelah matanya.
“QUÉ?! COMPAÑERA??” Vannesa membelalakan matanya melihat Ceno hanya
cengar-cengir puas ketika mendengarnya menjerit. [APA?! PACAR??]
“Kenapa
pake jerit-jerit kayak gitu sih, dek? Lo sakit?” Ceno bertanya dengan polosnya.
Vannesa
mendengus kesal dan melemparkan sebuah bantal pada Ceno. “Otak lo tuh yang
sakit!” geramnya.
Ceno
hanya terkekeh geli melihat tingkah adiknya dan keluar dari kamar tersebut
sebelum diusir dengan tidak terhormat.
******************************************************************************
Vannesa sedang mematut dirinya untuk
yang kesekian kalinya di hadapan cermin ketika Ceno berteriak dari lantai bawah
karena tidak sabar menunggunya yang kelamaan dandan.
“Woi,
Nessa! Lo mau sampe kapan dandan, hah?! Cepetan ngapa, ntar telaaatt!”
Gadis
tersebut mencebikan bibir bawahnya dan segera mengambil tasnya yang tergeletak
di atas kasur. Seraya menuruni tangga, ia mencari dimana sang abang berada.
“Bik
Icah.. Bang Ceno mana?” tanyanya kepada Bik Icah yang kebetulan lewat dengan
membawa beberapa gelas kopi yang ia yakini untuk para satpam yang menjaga
rumahnya.
“Tadi
Bik Icah liat Den Ceno uddah ke garasi, Non.”
“Oh,
makasih ya, Bik.” Vannesa tersenyum dan melangkahkan kakinya yang terbalut skinny jeans biru dongker ke arah garasi
dan mendapati sang kakak sudah duduk manis di bangku pengemudi. Ia segera
menaiki mobil Ceno.
“Bang
Reno nyusul?” Ceno bertanya sambil memindahkan tongkat perseneling dan
menjalankan mobilnya.
“Iya,
dia mau main ke rumah temennya dulu. Eh.. Denger-denger, Bang Reno abis ketemu
sama mantannya yang waktu SMA, ya?” Vannesa bertanya penasaran.
“Iye,
makanya tuh anak galau. Namanya Marisa, kan?”
“Oh
iya, namanya Marisa. Gue sampe lupa. Orangnya manis,” Vannesa melirik Ceno yang
masih fokus menyetir tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.
“Tapi
adek gue yang satu ini nggak kalah manisnya, kok.” Ceno menggoda Vannesa.
“Kerjaan
lo itu gombalin orang mulu, bang. Untung gue udah kebal,” balas Vannesa dengan
nada sini yang hanya ditanggapi tawa dari abangnya tersebut.
******************************************************************************
Vannesa sedang mengelilingi rak-rak
novel ketika tubuhnya ditabrak seseorang yang berpapasan dengannya. Membuat
beberapa novel tebal yang ia pegang jatuh ke lantai dan si penabrak juga
mengalami hal yang sama. Ia berniat untuk mengumpulkan novel-novel yang
berserakan di lantai ketika ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang
sangat ia kenal yang juga sedang mengumpulkan buku-bukunya di lantai.
Vannesa
langsung mengenali orang tersebut sebagai Mario—a.k.a sohib sehidup sematinya
setan satu itu.
“Sorry, ya. Gue nggak senga...” Vannesa
buru-buru berdiri ketika Mario melihat siapa yang ditabraknya tadi. Mario tidak
jadi melanjutkan kalimat permohonan maafnya, sebagai gantinya seringaian lebar
bertengger manis di wajahnya. “Nggak nyangka ketemu princessnya Steve di sini.”
“Gue
duluan, kak.” Vannesa tidak lagi menggunakan bahasa sopan seperti ‘saya’ kepada
senior yang berkomplot dengan Stevent ini.
“Eh?
Lo nggak nanya gue ke sini sama siapa?”
“Nggak
perlu.”
“Lo
ngomong sama siapa, Yo?” Tiba-tiba sebuah suara berat namun seksi terdengar
dari belakang Vannesa, menginterupsi keduanya.
“Vannesa?”
Suara tersebut bertanya lagi dan membuat
Vannesa harus membalikan badannnya untuk melihat pemilik suara tersebut.
Seketika Vannesa melongo melihat siapa yang memanggilnya, Stevent ada di
hadapannya dengan gaya yang—ehem!—cool.
“Eh..
Kok lo bisa ada di sini?” Vannesa gugup melihat manusia yang sekarang sedang
menatapnya dengan pandangan lo-sama-siapa-disini.
Seketika Vannesa teringat Ceno yang menunggunya di rak novel terjemahan. Mati gue! Kalo sampe Bang Ceno ke sini bisa
tamat gue nanti, desisnya dalam hati. Bukan apa-apa, kecepatan mulut kedua
abangnya—terutama Ceno—melebihi kecepatan mulut ibu-ibu rumpi di luar sana
apabila menyangkut urusan dirinya.
“Ness,
lo udah selesai belom? Bentar lagi jam 11, lho..” Ceno muncul dari balik rak
buku di sebelahnya dan menghampiri Vannesa yang sedang berdiri di antara dua
makhluk bergender cowok.
Mata
Ceno membulat melihat adiknya berdiri diantara dua lelaki. “Quinés son, Ness?” Ceno bertanya dalam
bahasa neneknya. [Siapa mereka, Ness?]
“Elos son mi amigos,” Vannesa menjawab
dalam bahasa yang sama. [Ini teman-temanku.]
Ceno
mengangguk sebelum akhirnya mengulurkan tangan kanannya pada Stevent. “Temennya
Nessa, ya? Kenalin, gue Ceno, abangnya Nessa.” Ceno memperkenalkan dirinya
dengan sopan pada Stevent juga Mario.
“Gue
pacarnya Nessa,” Stevent menekankan kata ‘pacar’ dalam pengucapannya dan
melirik Vannesa sekilas.
Ceno
tersentak kaget namun sedetik kemudian senyumnya mengembang lebar. Jenis senyum
menawan yang selalu dikeluarkannya untuk menggoda Vannesa atau meluluhkan hati
perempuan di luar sana. “Pacarnya Nessa? Nggak nyangka kita bisa ketemu di
sini. Kemaren lo ke rumah, ya?” Ceno mulai ber-sok-akrab-ria dengan Stevent dan
hal tersebut sukses membuat Vannesa melongo maksimal.
“Iya,
ini temen gue, Mario. Kemaren gue ke rumah mau nyamperin Nessa buat ngajak
jalan-jalan..”
“Berarti
bener! Lo yang diceritain kakak gue semalem,” Ceno nyengir lebar pada Vannesa
yang sudah mulai memasang tampang betenya.
“Oh,
ya? Jadi Vannesa punya dua abang?” Stevent mulai penasaran dengan asal-usul
Vannesa.
“Iya,
gue abangnya yang kedua. Yang kemaren ketemu lo itu kakak tertua kami,” sahut
Ceno dengan senyuman terukir khas di wajahnya. Vannesa mulai mengartikan
senyuman tersebut sebagai alarm tanda bahaya. “Oh, ya! Kalian ada acara lagi
nggak abis ini? Mungkin kalian bisa ikut kita ke acara kumpul-kumpul para
sepupu Martadinata. Gimana?” Lanjut ceno yang sukses membuat Vannesa menganga
takjub.
Bang Ceno! Bisa-bisanya dia ngajak orang
yang baru dia kenal ke acara keluarga! Awas kau, Ceno Al Farizi!
“Boleh,
deh. Gimana, Yo? Mau ikut?” Stevent bersuara.
“Hm..
Kebetulan gue nggak ada acara juga, sih. Gue ikut,” ucap Mario. Vannesa sudah
siap mencubit pinggang Ceno ketika Stevent menarik lengannya dan menggandeng
tangannya.
“Lo
udah selesai milih novelnya, babe?”
“Hah?
Oh.. U-Udah. Gue mau ke kasir dulu,” Vannesa melepaskan genggaman Stevent di
tangannya. Baru beberapa langkah ia berjalan, Stevent sudah kembali menggenggam
tangannya.
“Sini
bukunya.”
“Eh?
Lo mau ngapain sih?”
“Udah,
diem. Nggak usah banyak bawel.”
“Stevent!”
“Diem
atau gue cium!”
Vannesa
memilih diam dan menekan emosinya dalam-dalam. Berdekatan dengan Steve memang
membuatnya naik darah. Ceno dan Mario yang memperhatikan keributan kecil itu
dari belakang hanya terkekeh pelan dan melangkah keluar toko buku dengan
obrolan ringan khas cowok. Meninggalkan Vannesa dengan Stevent yang sedang
berada di kasir.
“Dua
ratus lima puluh lima ribu rupiah. Ada lagi, kak?” Penjaga kasir tersebut
menyebutkan total harga yang harus dibayar oleh Vannesa. Sebelum Vannesa
mengeluarkan dompetnya, Stevent sudah menyerahkan kartu ATMnya kepada si
penjaga kasir yang menerima benda tersebut dengan gugup karena melihat senyuman
Stevent. Vannesa yang melihat kelakuan kasir tersebut hanya melengos sebal.
Entah kenapa ia merasa kesal melihat Steve melemparkan senyumnya pada orang
lain.
“Ini,
kak. Terima kasih dan selamat datang kembali,” si penjaga kasir tersebut menyerahkan
belanjaan Vannesa dan kartu ATM Steve pada Vannesa seraya tersenyum ramah.
“Kita
kemana?” tanya Steve saat Vannesa menyerahkan kartu ATM Gold miliknya seraya
menggumamkan kata ‘makasih’.
“Gue
mau ke tempat ngumpul sodara. Udah jam 11,” Vannesa menjawab acuh.
“Okay,
gue ikut aja apa kata lo.”
******************************************************************************
“Ness, itu siapaaaa?” Dhinar, sepupu
Vannesa yang umurnya terpaut satu tahun di atasnya berbisik heboh ditelinganya
saat ia sampai di restoran milik Manda Martadinata, tante mereka.
“Yang
mana?” Vannesa menyahut malas.
“Ituu
yang gandeng elo tadi! Sama yang berdiri di sebelah Bang Ceno siapaaa?” Dhinar
masih saja heboh sendiri ketika Vannesa meletakan belanjaannya di atas meja
ruangan VIP di restoran Marta’s Culinary.
“Itu
Stevent Varezo Natanegara. Yang disebelah Bang Ceno itu Mario Aditya Haling.”
“HAH?!
Stevent Varezo? Pantesan gue ngerasa nggak asing! Dia kan pemenang kompetisi beladiri
Aikido sabuk cokelat se-Asia, Ness! Pemegang sabuk cokelat dalam Kyu 7 di
sekolah lo! Gilaa, lo bisa pacaran sama dia? Poor you, Steve.” Dhinar menggeleng-gelengkan kepalanya iba sambil
menatap Steve.
Vannesa
melongo takjub mendengar penjelasan Dhinar. “Heh! Ada juga gue yang lo
kasihanin gara-gara dapet pacar macam dia. Lo tau darimana kalo dia anak
Aikido?”
“Yee..
Lo lupa ya?” Dhinar menoyor kepala sepupunya. Vannesa yang tidak siap dengan
serangan Dhinar hanya bisa memberengut kesal karena ditoyor oleh sepupunya
sendiri. “Gue kan anak Aikido juga, Nessaaaa. Masa lo lupa, sih?” lanjut
Dhinar.
“Oh,
iya! Lo kan anak Aikido di Permata High School. Lupa gue,” Vannesa nyengir
lebar kepada sepupunya itu. Di antara semua sepupu perempuan, dia paling dekat
dengan Dhinar. Jarak umur yang sangat dekat membuatnya ogah memanggil Dhinar
dengan sebutan ‘Uni*’.
“Eh..
Tapi, lo gimana bisa ngegaet cowok kayak dia? Mengingat elo baru sebulan ada di
SMA Multi Bangsa.” Dhinar bertanya heran.
“That’s secret!” Vannesa nyengir jahil
pada saudaranya. Ia malas untuk menceritakan semuanya pada Dhinar. Dhinar hanya
mengangkat sebelah alisnya penasaran.
******************************************************************************
“Permisi, ini pesanan dari ibu Manda
untuk keluarga.” Suara pelayan terdengar dari luar pintu ruangan VIP ini.
Carlina, sepupu Vannesa yang juga anak pemilik restoran ini melangkah mendekati
pintu dan membukanya lebar-lebar. Dua orang pelayan berseragam restoran
tersebut masuk sambil mendorong troli berisi hidangan mulai dari makanan Indonesia
hingga Jepang.
Mereka
mulai meletakan satu persatu hidangan tersebut ke atas meja dengan hati-hati.
Harum masakan menguar ke seluruh ruangan dan menggugah selera. Steve yang duduk
di sebelah Vannesa mulai memilih-milih akan memakan apa. Pilihannya jatuh pada
gulai ikan kakap yang ada di dekatnya. Sementara Vannesa memilih untuk memakan sushi.
“Ini
masakan Padang ya, Ness?” tanya Steve sembari berusaha menjangkau gelas air
mineral. Mulutnya mendesis karena rasa pedas yang kuat dari kuah gulai tersebut.
Mario yang duduk di sebelah Dhinar terkekeh pelan dan melanjutkan makannya.
Mereka berdua sibuk mengobrol segala hal tentang Aikido dan Jepang—karena
kebetulan Mario juga mengikuti eskul Aikido seperti Steve—seraya memakan makan
siang mereka. Keduanya tampa akrab dan serasi di mata Vannesa.
“Permisi,
Nona. Minumannya mau ditambah?” tanya salah seorang pelayan laki-laki yang
masuk dengan sebuah teko besar di tangannya.
“Iya,
tolong ditambah, ya. Sekalian air putihnya ditambah juga,” Vannesa mengangsurkan
gelas minum Steve pada si pelayan karena ia kasihan melihat Steve yang
kepedasan. Marta’s Culinary memang menghidangkan segala macam makanan khas
Indonesia—khususnya Minang dan Sunda—juga makanan Jepang ataupun Western. Manda
selaku pemilik restoran ini memang mengutamakan masakan Indonesia dengan konsep
tempat makan yang cozy.
Tiba-tiba
Reno bangkit dari kursinya tanpa memandang ke sampingnya. Hal tersebut membuat
si pelayan yang berdiri di dekat kursinya oleng ke kiri dan teko berisi air
mineral yang sedang ia genggam jatuh ke lantai, mengenai skinny jeans Vannesa.
“Duuuuhh,
Bang Renoo. Kalo berdiri tuh liat-liat kek! Celana gue jadi basah kan
ketumpahan air,” gerutu Vannesa seraya berdiri dari kursinya. Stevent segera
menyodorkan kotak tisu padanya.
“Sorry, dek. Gue buru-buru.” Reno
melangkah tergesa-gesa keluar ruangan VIP tersebut tanpa pamit pada sepupu yang
lainnya.
“Dia
kenapa, sih?” gerutu Vannesa lagi.
“M-Maaf,
Nona. Saya benar-benar tidak sengaja.” Si pelayan yang di name tagnya bernama Dennis tersebut menunduk.
“Ya,
kamu emang nggak salah, kok. Nggak papa,” Vannesa mengeluarkan senyum ramahnya.
Steve yang melihat itu mendadak panas. Apa-apaan
dia?! Sama gue aja jutek mulu, sama cowok pelayan gini aja ramah banget!
*Uni = Panggilan untuk perempuan yang lebih tua dalam adat Minang.
Part 4:
Gadis berambut sebahu
tersebut mulai memacu mobilnya ketika melihat mobil Steve keluar dari parkiran
mall dan membelah jalanan ibu kota. Ia terus membututi kemana arah mobil Steve.
Tak berapa lama kemudian mobilnya memasuki perumahan elit di daerah Menteng.
Tiba-tiba mobil Steve berbelok di perempatan dan berhenti di sebuah rumah besar
bergaya Mediteranian. Ia melihat Stevent turun dan berlari ke arah pintu
penumpang di sebelah kirinya. Seorang gadis turun dari sisi penumpang mobil
tersebut.
"Oh, shit! Who
the hell is she?!" Geramnya. Ia memukul stir mobilnya ketika
melihat Steve mengecup bibir gadis itu cepat. Dengan kesal ia menjalankan
mobilnya keluar perumahan itu.
Part 4 – The War is Begun
“Nessa pulang sama gue, Bang.” Ucapan
Stevent sukses membuat Vannesa yang sedang meneguk air mineralnya tersedak.
“Hah?!
Pulang sama lo? Ogah! Gue pulang sama Bang Ceno aja,” ia memalingkan wajahnya
pada Ceno dan mengirimkan sinyal bantuan. Tapi Ceno pura-pura nggak peka dan
menganggukan kepalanya kepada Steve.
“Ya,
udah. Lo bawa deh tuh si Nessa pulang. Tapi lo mesti janji ke gue, lo mesti
anter adek gue sampe rumah dengan selamet! Kalo nggak, elo yang nggak selamet,”
Ceno mengancam dengan nada bercanda disertai cengiran jahil di wajahnya.
“Ish,
ngapain pake acara ngerepotin orang, sih, Bang? Kita satu rumah ini kok jadi
gue ikut lo aja. Steve kan rumahnya jauh,” kata Vannesa kesal. Ia sadar Ceno
tidak akan menolongnya.
“Duuuuhh,
perhatian banget sih adek gue ke pacarnya. Jadi iri.” Ceno membuat wajahnya
cemberut dengan maksud menggoda Nessa.
Steve
terkekeh mendengar ucapan Ceno. “Nggak ngerepotin, kok, sayaaangg.”
“Gue
tetep nggak mau!” Vannesa membalas dengan keras kepala.
Ceno
menjitak kepala Nessa dengan gemas. “Heh, cil! Dari sini gue mau ke rumah temen
dulu, tau!” Vannesa meringis sambil mengelus kepalanya.
Dhinar
yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka ikut terkekeh melihat
pertengkaran kecil Vannesa dengan sang abang. Sementara Mario hanya diam dan
memilih sibuk dengan gadgetnya.
“Seret
aja si Nessa kalo gak mau, Steve.” Dhinar mulai mendukung Stevent.
“Lo
lagi! Ngapain ikut-ikutan si abang?” tanya Vannesa kesal.
“Lho?
Kok gue? Lagian apa salahnya sih, Ness, kalo Steve mau nganterin lo pulang?
Niat dia kan baek. Udah bagus dapet pacar perhatian kayak dia tapi lo
sia-siain. Ckck.. Steve, mending lo jadi pacar gue, deh. Daripada dicuekin mulu
sama Nessa,” seru Dhinar panjang lebar.
“Tau
amat, ah.” Vannesa berdecak kesal dan menelungkupkan wajahnya di atas meja.
“Yuk,
ah. Gue cabut duluan, ya. Mau ke rumah temen bentar,” Ceno berseru seraya
melambaikan tangannya pada semua sepupu Martadinata yang datang.
“Ness,
lo mau pulang apa enggak? Yang lain udah pada siap-siap pulang, loh.” Stevent
berkata lembut di sebelah Vannesa. Dhinar yang melihat hal tersebut hanya
tersenyum tipis dan mengambil tasnya, bersiap untuk pulang.
Vannesa
mengangkat wajahnya dan menampilkan raut muka cemberut. Steve yang melihat itu
hanya tersenyum lembut dan menarik tangan Vannesa agar ia berdiri. Ia mengikuti
Steve yang menggandeng tangannya menuju basement
tempat mobil cowok itu diparkir. Dada Vannesa berdesir ketika merasakan
Steve menggenggam tangannya posesif. Ia malu untuk mengakui ini, namun ia merasa
nyaman dengan semuanya.
Tanpa
ia sadari, mereka sudah sampai di tempat mobil Steve terparkir dengan rapi.
Steve membukakan pintu penumpang dan mempersilakan Vannesa masuk namun tidak
ada respon dari Vannesa yang berdiri di sebelahnya. Tangannya naik ke depan
wajah Vannesa dan menggoyang-goyangkannya di sana. “Ness..”
“Eh,
oh.. A-Apa?” tanya Vannesa gugup karena ketahuan melamun.
“Lo
ngelamunin apa, sih?”
“Eh?
Engga kok,” ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menghalau rasa gugupnya.
Stevent tidak memperpanjang masalah lagi dan menyuruhnya untuk masuk ke mobil.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore dan ia harus mengantar Vannesa
dengan selamat sampai rumah.
******************************************************************************
“Sudah sampai,” Stevent mengecilkan
volume radio yang sedari tadi memenuhi mobil karena mereka berdua enggan untuk
memulai pembicaraan. Steve keluar terlebih dahulu dan berlari kecil ke arah
pintu penumpang di sebelah kirinya. Ia membukakan pintu tersebut dan membantu
Vannesa keluar.
“Thanks, ya. Mampir?” tanya Vannesa
basa-basi. Ia berdoa dalam hati agar Stevent menolak ajakannya untuk mampir.
Alasannya simpel; ia nggak mau ada ‘pengganggu di rumahnya. Ya, mungkin agak
tega ya menyebut orang di hadapannya dengan sebutan pengganggu, tapi memang
begitulah kenyataannya. Stevent selalu ‘mengganggu’nya setiap ada kesempatan.
“Makasih,
tapi maaf banget. Gue lagi buru-buru, ada urusan.” Stevent tersenyum lembut dan
hal itu membuat Vanesa sedikit gugup melihatnya.
“Oh, gitu...” Hening seketika. Mereka saling
bertatapan satu sama lain.
“Gue
pergi dulu ya,” suara Steve memecah keheningan di antara mereka. Entah sudah
berapa lama mereka bertatapan.
“I-Iya.”
Vannesa menjawab gugup. Stevent meraih tengkuk Vannesa dan mendekatkan kepala
gadis itu padanya. Ia mengecup dahi Vannesa dengan lembut. Sebelum berbalik dan
masuk ke dalam mobil, Steve kembali tersenyum lembut padanya.
Seketika
rona merah menjalari wajahnya. Jantungnya berpacu cepat ketika Stevent
melepaskan kecupannya dan menatapnya hangat. Ia balas menatapnya dan melihat
ada senyum di sana. Tatapan Stevent kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang
tak ia mengerti di dalamnya.
******************************************************************************
Gadis berambut
sebahu tersebut mulai memacu mobilnya ketika melihat mobil Steve keluar dari
parkiran mall dan membelah jalanan ibu kota. Ia terus membututi kemana arah
mobil Steve. Tak berapa lama kemudian mobilnya memasuki perumahan elit di daerah
Menteng. Tiba-tiba mobil Steve berbelok di perempatan dan berhenti di sebuah
rumah besar bergaya Mediteranian. Ia melihat Stevent turun dan berlari ke arah
pintu penumpang di sebelah kirinya. Seorang gadis turun dari sisi penumpang
mobil tersebut.
"Oh, shit! Who the hell is she?!" Geramnya. Ia
memukul stir mobilnya ketika melihat Steve mengecup bibir gadis itu cepat.
Dengan kesal ia menjalankan mobilnya keluar perumahan itu. Enggan untuk melihat
kelanjutan ‘drama queen’ tak jauh
dari hadapannya.
“Be aware, girl. You’ve started this war!”
******************************************************************************
“Cieeee
yang dianter pulang sama bebebnyaaa.. Uhh, inget kali ada yang lagi single di sini.”
Vannesa tersentak ketika
mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya selama hampir 16 tahun hidupnya
mengagetkannya. Kepalanya langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Ceno
sedang duduk manis di sofa ruang keluarga sambil nyengir ke arahnya. Rupanya ia
sudah sampai sejak tadi dan sedang menonton siaran TV lokal yang menyajikan
acara talk show dengan bintang tamu
seorang ibu-ibu yang berasal dari keluarga kurang mampu tapi memiliki anak yang
sangat pintar sehingga bisa sekolah ke luar negeri. Untuk sejenak ia
mengabaikan acara TV tersebut dan memilih fokus pada abangnya.
“ABANG BOHOOOOONNGGGG!!!!”
Jeritnya kesal. Sang Mama, Felizarni sampai keluar dari ruang kerja suaminya di
lantai dua yang juga merangkap sebagai ruang kerja miliknya.
“Nessa, kamu kenapa, nak? Kok
pulang-pulang bukannya salam malah teriak-teriak gitu, sih?” Mamanya bertanya
heran dari pinggir koridor lantai dua dekat tangga yang berhadapan langsung
dengan ruang keluarga.
“Bang Ceno, tuh, Maaaa,”
rengeknya.
Sang Mama hanya bisa
geleng-geleng kepala saja bila Vannesa mulai merengek kepadanya karena kesal
dengan abang-abangnya. “Apa lagiii? Kamu udah SMA, loh, Ness. Jangan suka manja
gitu lagi, ah.”
“Ih, Mamaaaaaaa,” ia masih saja
merengek. Berharap Mamanya mau membantunya untuk mengatasi rasa kesalnya kepada
Ceno.
“Emang ada apa, sih? Kok
ribut-ribut begini?” Admiral, Papa mereka muncul dari balik punggung Mama
mereka. Tangannya merengkuh pinggang ramping sang istri dengan mesra. Ini yang
Vannesa suka dari mereka; walaupun sudah menjelang setengah abad, tapi
kemesraan di antara mereka tidak pernah pudar dimakan usia.
“Biasa, Pa. Urusan anak muda,
laaahh.” Ceno menjawab cepat sebelum Vannesa membuka mulutnya.
“Oh, gitu. Ma, kita ke kamar,
yuk? Badan Papa pegel-pegel semua, nih, seharian di kantor mantengin
kertas-kertas proyek sama laporan muluuu..” Papa mereka menoleh kepada istrinya
dan mengerling jahil.
“Ish, si papa. Ya, udah. Yuk,”
dengan lembut Mama mereka menarik sang Papa menuju kamar utama.
“Duuh, Ma, Pa, tiap hari berasa
pengantin baru aja, yaaa.” Ceno menggoda mereka dari bawah. Sementara yang
digoda hanya bisa nyengir malu.
“Yaaaahhh, Mama kok ngabur,
siihh?” Vannesa bergumam pada dirinya sendiri ketika kedua orang tuanya
menghilang dari pandangannya.
Ceno yang mendengar gumaman si
adik langsung cengengesan nggak jelas, siap untuk menggoda kembali Vannesa.
“Jadi—”
“Aduh! Sakit peruuutt, toilet
mana toilet.” Tiba-tiba Vannesa memegang perutnya dan berakting seolah perutnya
sakit tepat ketika Ceno akan mengintrogasi—atau menggodanya lagi. Ia segera
berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Ceno yang
bengong sendirian karena melihatnya heboh sendiri.
“Yeeee, dasar bocah!” Sungut
Ceno.
No comments:
Post a Comment