Thursday, August 8, 2013

Hate That I Love You (Part 3-4)

Part 3 – Jealous?
Stevent tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya hari ini. Sesampainya di rumah setelah mengantarkan sang putri (baca: Vannesa) ke istananya dengan selamat, ia segera membuka kotak sepatu yang baru ia beli tadi. Dengan senyum yang setia bertengger di wajahnya, ia mencoba sepatu tersebut. Dan hasilnya.. PAS! Sepatu tersebut sangat cocok dan pas untuk dirinya pakai. Setelah berpose dengan gaya—sok—cool di depan cermin kamarnya—minus kamera, Stevent mengetik pesan singkat melalui Whatsapp kepada gadisnya.
To: Vannesa
Babe, thanks for your gift today. I like it. Love you :*
                Tidak ada balasan dari Vannesa. Stevent memilih untuk tidak mempermasalahkannya dan menyimpan kembali sepatu tadi pada tempatnya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada pesan Whatsapp yang masuk. Dengan cepat ia menyambar smartphone tersebut dan membaca isi pesan dari Mario, teman sejawatnya.
Sender: Mario
Bro, bisa ketemuan sekarang, gak?
                Stevent membalas pesan tersebut dengan kening yang terlipat.
To: Mario
Jgn sekarang deh, bro. Bsk aja gmn? Di café biasa.
          Beberapa detik kemudian Mario membalas pesan Stevent yang bermaksud menyetujui ide sohibnya tersebut. Stevent merebahkan tubuhnya di kasur berukuran besar miliknya dan memejamkan matanya. Detik berikutnya terdengar dengkuran halus pertanda dirinya telah terbang ke alam mimpi.
******************************************************************************
“Iya, besok tanggal merah, kan? Kita kumpul besok aja, gimana?” Vannesa sedang berbicara dengan sepupunya yang hanya terpaut 2 tahun darinya ketika Ceno masuk ke kamarnya tanpa permisi.
                Vannesa mendelik sebal ke arah Ceno yang hanya dibalas cengiran lebar pemuda latino tersebut. Ceno melemparkan tatapan siapa-yang-nelpon kepada sang adik sementara sang adik memberi isyarat untuk diam melalui tatapan matanya yang tajam.
                “Oke, deh. See you tomorrow, Uni Arlin!” seru Vannesa dengan riang dan menyudahi pembicaraannya dengan si sepupu. Ceno langsung bersiap membuka mulutnya untuk melontarkan pertanyaan ketika Vannesa menyela, “Uni Arlin nelpon, katanya besok kita diajak kumpul di restoran maminya yang di PIM. Udah lama kan kita nggak kumpul?” Ceno hanya menganggukan kepalanya sambil terus memperhatikan sang adik.
                Vannesa melirik abangnya kesal. “Ya udah, apa lagi?” tanyanya ketika melihat tatapan Ceno yang sepertinya minta dijelaskan isi percakapan via telpon barusan.
                Ceno langsung menampakan wajah cengengesannya—yang menurut Vannesa jelek dipandang—dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Besok, yah? Jam berapa?”
                “Jam 11,” balas Vannesa singkat.
                “Pacar lo nggak diajak? Kan lumayan tuh, lo kenalin dia ke semua sepupu Martadinata,” ucap Ceno sambil mengedipkan sebelah matanya.
                “QUÉ?! COMPAÑERA??” Vannesa membelalakan matanya melihat Ceno hanya cengar-cengir puas ketika mendengarnya menjerit. [APA?! PACAR??]
                “Kenapa pake jerit-jerit kayak gitu sih, dek? Lo sakit?” Ceno bertanya dengan polosnya.
                Vannesa mendengus kesal dan melemparkan sebuah bantal pada Ceno. “Otak lo tuh yang sakit!” geramnya.
                Ceno hanya terkekeh geli melihat tingkah adiknya dan keluar dari kamar tersebut sebelum diusir dengan tidak terhormat.
******************************************************************************
Vannesa sedang mematut dirinya untuk yang kesekian kalinya di hadapan cermin ketika Ceno berteriak dari lantai bawah karena tidak sabar menunggunya yang kelamaan dandan.
                “Woi, Nessa! Lo mau sampe kapan dandan, hah?! Cepetan ngapa, ntar telaaatt!”
                Gadis tersebut mencebikan bibir bawahnya dan segera mengambil tasnya yang tergeletak di atas kasur. Seraya menuruni tangga, ia mencari dimana sang abang berada.
                “Bik Icah.. Bang Ceno mana?” tanyanya kepada Bik Icah yang kebetulan lewat dengan membawa beberapa gelas kopi yang ia yakini untuk para satpam yang menjaga rumahnya.
                “Tadi Bik Icah liat Den Ceno uddah ke garasi, Non.”
                “Oh, makasih ya, Bik.” Vannesa tersenyum dan melangkahkan kakinya yang terbalut skinny jeans biru dongker ke arah garasi dan mendapati sang kakak sudah duduk manis di bangku pengemudi. Ia segera menaiki mobil Ceno.
                “Bang Reno nyusul?” Ceno bertanya sambil memindahkan tongkat perseneling dan menjalankan mobilnya.
                “Iya, dia mau main ke rumah temennya dulu. Eh.. Denger-denger, Bang Reno abis ketemu sama mantannya yang waktu SMA, ya?” Vannesa bertanya penasaran.
                “Iye, makanya tuh anak galau. Namanya Marisa, kan?”
                “Oh iya, namanya Marisa. Gue sampe lupa. Orangnya manis,” Vannesa melirik Ceno yang masih fokus menyetir tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.
                “Tapi adek gue yang satu ini nggak kalah manisnya, kok.” Ceno menggoda Vannesa.
                “Kerjaan lo itu gombalin orang mulu, bang. Untung gue udah kebal,” balas Vannesa dengan nada sini yang hanya ditanggapi tawa dari abangnya tersebut.
******************************************************************************
Vannesa sedang mengelilingi rak-rak novel ketika tubuhnya ditabrak seseorang yang berpapasan dengannya. Membuat beberapa novel tebal yang ia pegang jatuh ke lantai dan si penabrak juga mengalami hal yang sama. Ia berniat untuk mengumpulkan novel-novel yang berserakan di lantai ketika ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang sangat ia kenal yang juga sedang mengumpulkan buku-bukunya di lantai.
                Vannesa langsung mengenali orang tersebut sebagai Mario—a.k.a sohib sehidup sematinya setan satu itu.
                “Sorry, ya. Gue nggak senga...” Vannesa buru-buru berdiri ketika Mario melihat siapa yang ditabraknya tadi. Mario tidak jadi melanjutkan kalimat permohonan maafnya, sebagai gantinya seringaian lebar bertengger manis di wajahnya. “Nggak nyangka ketemu princessnya Steve di sini.”
                “Gue duluan, kak.” Vannesa tidak lagi menggunakan bahasa sopan seperti ‘saya’ kepada senior yang berkomplot dengan Stevent ini.
                “Eh? Lo nggak nanya gue ke sini sama siapa?”
                “Nggak perlu.”
                “Lo ngomong sama siapa, Yo?” Tiba-tiba sebuah suara berat namun seksi terdengar dari belakang Vannesa, menginterupsi keduanya.
                “Vannesa?” Suara tersebut bertanya lagi dan  membuat Vannesa harus membalikan badannnya untuk melihat pemilik suara tersebut. Seketika Vannesa melongo melihat siapa yang memanggilnya, Stevent ada di hadapannya dengan gaya yang—ehem!—cool.
                “Eh.. Kok lo bisa ada di sini?” Vannesa gugup melihat manusia yang sekarang sedang menatapnya dengan pandangan lo-sama-siapa-disini. Seketika Vannesa teringat Ceno yang menunggunya di rak novel terjemahan. Mati gue! Kalo sampe Bang Ceno ke sini bisa tamat gue nanti, desisnya dalam hati. Bukan apa-apa, kecepatan mulut kedua abangnya—terutama Ceno—melebihi kecepatan mulut ibu-ibu rumpi di luar sana apabila menyangkut urusan dirinya.
                “Ness, lo udah selesai belom? Bentar lagi jam 11, lho..” Ceno muncul dari balik rak buku di sebelahnya dan menghampiri Vannesa yang sedang berdiri di antara dua makhluk bergender cowok.
                Mata Ceno membulat melihat adiknya berdiri diantara dua lelaki. “Quinés son, Ness?” Ceno bertanya dalam bahasa neneknya. [Siapa mereka, Ness?]
                “Elos son mi amigos,” Vannesa menjawab dalam bahasa yang sama. [Ini teman-temanku.]
                Ceno mengangguk sebelum akhirnya mengulurkan tangan kanannya pada Stevent. “Temennya Nessa, ya? Kenalin, gue Ceno, abangnya Nessa.” Ceno memperkenalkan dirinya dengan sopan pada Stevent juga Mario.
                “Gue pacarnya Nessa,” Stevent menekankan kata ‘pacar’ dalam pengucapannya dan melirik Vannesa sekilas.
                Ceno tersentak kaget namun sedetik kemudian senyumnya mengembang lebar. Jenis senyum menawan yang selalu dikeluarkannya untuk menggoda Vannesa atau meluluhkan hati perempuan di luar sana. “Pacarnya Nessa? Nggak nyangka kita bisa ketemu di sini. Kemaren lo ke rumah, ya?” Ceno mulai ber-sok-akrab-ria dengan Stevent dan hal tersebut sukses membuat Vannesa melongo maksimal.
                “Iya, ini temen gue, Mario. Kemaren gue ke rumah mau nyamperin Nessa buat ngajak jalan-jalan..”
                “Berarti bener! Lo yang diceritain kakak gue semalem,” Ceno nyengir lebar pada Vannesa yang sudah mulai memasang tampang betenya.
                “Oh, ya? Jadi Vannesa punya dua abang?” Stevent mulai penasaran dengan asal-usul Vannesa.
                “Iya, gue abangnya yang kedua. Yang kemaren ketemu lo itu kakak tertua kami,” sahut Ceno dengan senyuman terukir khas di wajahnya. Vannesa mulai mengartikan senyuman tersebut sebagai alarm tanda bahaya. “Oh, ya! Kalian ada acara lagi nggak abis ini? Mungkin kalian bisa ikut kita ke acara kumpul-kumpul para sepupu Martadinata. Gimana?” Lanjut ceno yang sukses membuat Vannesa menganga takjub.
                Bang Ceno! Bisa-bisanya dia ngajak orang yang baru dia kenal ke acara keluarga! Awas kau, Ceno Al Farizi!
                “Boleh, deh. Gimana, Yo? Mau ikut?” Stevent bersuara.
                “Hm.. Kebetulan gue nggak ada acara juga, sih. Gue ikut,” ucap Mario. Vannesa sudah siap mencubit pinggang Ceno ketika Stevent menarik lengannya dan menggandeng tangannya.
                “Lo udah selesai milih novelnya, babe?”
                “Hah? Oh.. U-Udah. Gue mau ke kasir dulu,” Vannesa melepaskan genggaman Stevent di tangannya. Baru beberapa langkah ia berjalan, Stevent sudah kembali menggenggam tangannya.
                “Sini bukunya.”
                “Eh? Lo mau ngapain sih?”
                “Udah, diem. Nggak usah banyak bawel.”
                “Stevent!”
                “Diem atau gue cium!”
                Vannesa memilih diam dan menekan emosinya dalam-dalam. Berdekatan dengan Steve memang membuatnya naik darah. Ceno dan Mario yang memperhatikan keributan kecil itu dari belakang hanya terkekeh pelan dan melangkah keluar toko buku dengan obrolan ringan khas cowok. Meninggalkan Vannesa dengan Stevent yang sedang berada di kasir.
                “Dua ratus lima puluh lima ribu rupiah. Ada lagi, kak?” Penjaga kasir tersebut menyebutkan total harga yang harus dibayar oleh Vannesa. Sebelum Vannesa mengeluarkan dompetnya, Stevent sudah menyerahkan kartu ATMnya kepada si penjaga kasir yang menerima benda tersebut dengan gugup karena melihat senyuman Stevent. Vannesa yang melihat kelakuan kasir tersebut hanya melengos sebal. Entah kenapa ia merasa kesal melihat Steve melemparkan senyumnya pada orang lain.
                “Ini, kak. Terima kasih dan selamat datang kembali,” si penjaga kasir tersebut menyerahkan belanjaan Vannesa dan kartu ATM Steve pada Vannesa seraya tersenyum ramah.
                “Kita kemana?” tanya Steve saat Vannesa menyerahkan kartu ATM Gold miliknya seraya menggumamkan kata ‘makasih’.
                “Gue mau ke tempat ngumpul sodara. Udah jam 11,” Vannesa menjawab acuh.
                “Okay, gue ikut aja apa kata lo.”
******************************************************************************
“Ness, itu siapaaaa?” Dhinar, sepupu Vannesa yang umurnya terpaut satu tahun di atasnya berbisik heboh ditelinganya saat ia sampai di restoran milik Manda Martadinata, tante mereka.
                “Yang mana?” Vannesa menyahut malas.
                “Ituu yang gandeng elo tadi! Sama yang berdiri di sebelah Bang Ceno siapaaa?” Dhinar masih saja heboh sendiri ketika Vannesa meletakan belanjaannya di atas meja ruangan VIP di restoran Marta’s Culinary.
                “Itu Stevent Varezo Natanegara. Yang disebelah Bang Ceno itu Mario Aditya Haling.”
                “HAH?! Stevent Varezo? Pantesan gue ngerasa nggak asing! Dia kan pemenang kompetisi beladiri Aikido sabuk cokelat se-Asia, Ness! Pemegang sabuk cokelat dalam Kyu 7 di sekolah lo! Gilaa, lo bisa pacaran sama dia? Poor you, Steve.” Dhinar menggeleng-gelengkan kepalanya iba sambil menatap Steve.
                Vannesa melongo takjub mendengar penjelasan Dhinar. “Heh! Ada juga gue yang lo kasihanin gara-gara dapet pacar macam dia. Lo tau darimana kalo dia anak Aikido?”
                “Yee.. Lo lupa ya?” Dhinar menoyor kepala sepupunya. Vannesa yang tidak siap dengan serangan Dhinar hanya bisa memberengut kesal karena ditoyor oleh sepupunya sendiri. “Gue kan anak Aikido juga, Nessaaaa. Masa lo lupa, sih?” lanjut Dhinar.
                “Oh, iya! Lo kan anak Aikido di Permata High School. Lupa gue,” Vannesa nyengir lebar kepada sepupunya itu. Di antara semua sepupu perempuan, dia paling dekat dengan Dhinar. Jarak umur yang sangat dekat membuatnya ogah memanggil Dhinar dengan sebutan ‘Uni*’.
                “Eh.. Tapi, lo gimana bisa ngegaet cowok kayak dia? Mengingat elo baru sebulan ada di SMA Multi Bangsa.” Dhinar bertanya heran.
                “That’s secret!” Vannesa nyengir jahil pada saudaranya. Ia malas untuk menceritakan semuanya pada Dhinar. Dhinar hanya mengangkat sebelah alisnya penasaran.
******************************************************************************
“Permisi, ini pesanan dari ibu Manda untuk keluarga.” Suara pelayan terdengar dari luar pintu ruangan VIP ini. Carlina, sepupu Vannesa yang juga anak pemilik restoran ini melangkah mendekati pintu dan membukanya lebar-lebar. Dua orang pelayan berseragam restoran tersebut masuk sambil mendorong troli berisi hidangan mulai dari makanan Indonesia hingga Jepang.
                Mereka mulai meletakan satu persatu hidangan tersebut ke atas meja dengan hati-hati. Harum masakan menguar ke seluruh ruangan dan menggugah selera. Steve yang duduk di sebelah Vannesa mulai memilih-milih akan memakan apa. Pilihannya jatuh pada gulai ikan kakap yang ada di dekatnya. Sementara Vannesa memilih untuk memakan sushi.
                “Ini masakan Padang ya, Ness?” tanya Steve sembari berusaha menjangkau gelas air mineral. Mulutnya mendesis karena rasa pedas yang kuat dari kuah gulai tersebut. Mario yang duduk di sebelah Dhinar terkekeh pelan dan melanjutkan makannya. Mereka berdua sibuk mengobrol segala hal tentang Aikido dan Jepang—karena kebetulan Mario juga mengikuti eskul Aikido seperti Steve—seraya memakan makan siang mereka. Keduanya tampa akrab dan serasi di mata Vannesa.
                “Permisi, Nona. Minumannya mau ditambah?” tanya salah seorang pelayan laki-laki yang masuk dengan sebuah teko besar di tangannya.
                “Iya, tolong ditambah, ya. Sekalian air putihnya ditambah juga,” Vannesa mengangsurkan gelas minum Steve pada si pelayan karena ia kasihan melihat Steve yang kepedasan. Marta’s Culinary memang menghidangkan segala macam makanan khas Indonesia—khususnya Minang dan Sunda—juga makanan Jepang ataupun Western. Manda selaku pemilik restoran ini memang mengutamakan masakan Indonesia dengan konsep tempat makan yang cozy.
                Tiba-tiba Reno bangkit dari kursinya tanpa memandang ke sampingnya. Hal tersebut membuat si pelayan yang berdiri di dekat kursinya oleng ke kiri dan teko berisi air mineral yang sedang ia genggam jatuh ke lantai, mengenai skinny jeans Vannesa.
                “Duuuuhh, Bang Renoo. Kalo berdiri tuh liat-liat kek! Celana gue jadi basah kan ketumpahan air,” gerutu Vannesa seraya berdiri dari kursinya. Stevent segera menyodorkan kotak tisu padanya.
                “Sorry, dek. Gue buru-buru.” Reno melangkah tergesa-gesa keluar ruangan VIP tersebut tanpa pamit pada sepupu yang lainnya.
                “Dia kenapa, sih?” gerutu Vannesa lagi.
                “M-Maaf, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja.” Si pelayan yang di name tagnya bernama Dennis tersebut menunduk.
                “Ya, kamu emang nggak salah, kok. Nggak papa,” Vannesa mengeluarkan senyum ramahnya. Steve yang melihat itu mendadak panas. Apa-apaan dia?! Sama gue aja jutek mulu, sama cowok pelayan gini aja ramah banget!
               

*Uni = Panggilan untuk perempuan yang lebih tua dalam adat Minang.

Part 4:
                Gadis berambut sebahu tersebut mulai memacu mobilnya ketika melihat mobil Steve keluar dari parkiran mall dan membelah jalanan ibu kota. Ia terus membututi kemana arah mobil Steve. Tak berapa lama kemudian mobilnya memasuki perumahan elit di daerah Menteng. Tiba-tiba mobil Steve berbelok di perempatan dan berhenti di sebuah rumah besar bergaya Mediteranian. Ia melihat Stevent turun dan berlari ke arah pintu penumpang di sebelah kirinya. Seorang gadis turun dari sisi penumpang mobil tersebut.
                "Oh, shit! Who the hell is she?!" Geramnya. Ia memukul stir mobilnya ketika melihat Steve mengecup bibir gadis itu cepat. Dengan kesal ia menjalankan mobilnya keluar perumahan itu.






Part 4 – The War is Begun

“Nessa pulang sama gue, Bang.” Ucapan Stevent sukses membuat Vannesa yang sedang meneguk air mineralnya tersedak.
                “Hah?! Pulang sama lo? Ogah! Gue pulang sama Bang Ceno aja,” ia memalingkan wajahnya pada Ceno dan mengirimkan sinyal bantuan. Tapi Ceno pura-pura nggak peka dan menganggukan kepalanya kepada Steve.
                “Ya, udah. Lo bawa deh tuh si Nessa pulang. Tapi lo mesti janji ke gue, lo mesti anter adek gue sampe rumah dengan selamet! Kalo nggak, elo yang nggak selamet,” Ceno mengancam dengan nada bercanda disertai cengiran jahil di wajahnya.
                “Ish, ngapain pake acara ngerepotin orang, sih, Bang? Kita satu rumah ini kok jadi gue ikut lo aja. Steve kan rumahnya jauh,” kata Vannesa kesal. Ia sadar Ceno tidak akan menolongnya.
                “Duuuuhh, perhatian banget sih adek gue ke pacarnya. Jadi iri.” Ceno membuat wajahnya cemberut dengan maksud menggoda Nessa.
                Steve terkekeh mendengar ucapan Ceno. “Nggak ngerepotin, kok, sayaaangg.”
                “Gue tetep nggak mau!” Vannesa membalas dengan keras kepala.
                Ceno menjitak kepala Nessa dengan gemas. “Heh, cil! Dari sini gue mau ke rumah temen dulu, tau!” Vannesa meringis sambil mengelus kepalanya.
                Dhinar yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka ikut terkekeh melihat pertengkaran kecil Vannesa dengan sang abang. Sementara Mario hanya diam dan memilih sibuk dengan gadgetnya.
                “Seret aja si Nessa kalo gak mau, Steve.” Dhinar mulai mendukung Stevent.
                “Lo lagi! Ngapain ikut-ikutan si abang?” tanya Vannesa kesal.
                “Lho? Kok gue? Lagian apa salahnya sih, Ness, kalo Steve mau nganterin lo pulang? Niat dia kan baek. Udah bagus dapet pacar perhatian kayak dia tapi lo sia-siain. Ckck.. Steve, mending lo jadi pacar gue, deh. Daripada dicuekin mulu sama Nessa,” seru Dhinar panjang lebar.
                “Tau amat, ah.” Vannesa berdecak kesal dan menelungkupkan wajahnya di atas meja.
                “Yuk, ah. Gue cabut duluan, ya. Mau ke rumah temen bentar,” Ceno berseru seraya melambaikan tangannya pada semua sepupu Martadinata yang datang.
                “Ness, lo mau pulang apa enggak? Yang lain udah pada siap-siap pulang, loh.” Stevent berkata lembut di sebelah Vannesa. Dhinar yang melihat hal tersebut hanya tersenyum tipis dan mengambil tasnya, bersiap untuk pulang.
                Vannesa mengangkat wajahnya dan menampilkan raut muka cemberut. Steve yang melihat itu hanya tersenyum lembut dan menarik tangan Vannesa agar ia berdiri. Ia mengikuti Steve yang menggandeng tangannya menuju basement tempat mobil cowok itu diparkir. Dada Vannesa berdesir ketika merasakan Steve menggenggam tangannya posesif. Ia malu untuk mengakui ini, namun ia merasa nyaman dengan semuanya.
                Tanpa ia sadari, mereka sudah sampai di tempat mobil Steve terparkir dengan rapi. Steve membukakan pintu penumpang dan mempersilakan Vannesa masuk namun tidak ada respon dari Vannesa yang berdiri di sebelahnya. Tangannya naik ke depan wajah Vannesa dan menggoyang-goyangkannya di sana. “Ness..”
                “Eh, oh.. A-Apa?” tanya Vannesa gugup karena ketahuan melamun.      
                “Lo ngelamunin apa, sih?”
                “Eh? Engga kok,” ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menghalau rasa gugupnya. Stevent tidak memperpanjang masalah lagi dan menyuruhnya untuk masuk ke mobil. Waktu sudah menunjukan pukul setengah enam sore dan ia harus mengantar Vannesa dengan selamat sampai rumah.
******************************************************************************
“Sudah sampai,” Stevent mengecilkan volume radio yang sedari tadi memenuhi mobil karena mereka berdua enggan untuk memulai pembicaraan. Steve keluar terlebih dahulu dan berlari kecil ke arah pintu penumpang di sebelah kirinya. Ia membukakan pintu tersebut dan membantu Vannesa keluar.
                “Thanks, ya. Mampir?” tanya Vannesa basa-basi. Ia berdoa dalam hati agar Stevent menolak ajakannya untuk mampir. Alasannya simpel; ia nggak mau ada ‘pengganggu di rumahnya. Ya, mungkin agak tega ya menyebut orang di hadapannya dengan sebutan pengganggu, tapi memang begitulah kenyataannya. Stevent selalu ‘mengganggu’nya setiap ada kesempatan.
                “Makasih, tapi maaf banget. Gue lagi buru-buru, ada urusan.” Stevent tersenyum lembut dan hal itu membuat Vanesa sedikit gugup melihatnya.
                 “Oh, gitu...” Hening seketika. Mereka saling bertatapan satu sama lain.
                “Gue pergi dulu ya,” suara Steve memecah keheningan di antara mereka. Entah sudah berapa lama mereka bertatapan.
                “I-Iya.” Vannesa menjawab gugup. Stevent meraih tengkuk Vannesa dan mendekatkan kepala gadis itu padanya. Ia mengecup dahi Vannesa dengan lembut. Sebelum berbalik dan masuk ke dalam mobil, Steve kembali tersenyum lembut padanya.
                Seketika rona merah menjalari wajahnya. Jantungnya berpacu cepat ketika Stevent melepaskan kecupannya dan menatapnya hangat. Ia balas menatapnya dan melihat ada senyum di sana. Tatapan Stevent kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang tak ia mengerti di dalamnya.
******************************************************************************
Gadis berambut sebahu tersebut mulai memacu mobilnya ketika melihat mobil Steve keluar dari parkiran mall dan membelah jalanan ibu kota. Ia terus membututi kemana arah mobil Steve. Tak berapa lama kemudian mobilnya memasuki perumahan elit di daerah Menteng. Tiba-tiba mobil Steve berbelok di perempatan dan berhenti di sebuah rumah besar bergaya Mediteranian. Ia melihat Stevent turun dan berlari ke arah pintu penumpang di sebelah kirinya. Seorang gadis turun dari sisi penumpang mobil tersebut.
                "Oh, shit! Who the hell is she?!" Geramnya. Ia memukul stir mobilnya ketika melihat Steve mengecup bibir gadis itu cepat. Dengan kesal ia menjalankan mobilnya keluar perumahan itu. Enggan untuk melihat kelanjutan ‘drama queen’ tak jauh dari hadapannya.
                “Be aware, girl. You’ve started this war!”
******************************************************************************
“Cieeee yang dianter pulang sama bebebnyaaa.. Uhh, inget kali ada yang lagi single di sini.”
                Vannesa tersentak ketika mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya selama hampir 16 tahun hidupnya mengagetkannya. Kepalanya langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Ceno sedang duduk manis di sofa ruang keluarga sambil nyengir ke arahnya. Rupanya ia sudah sampai sejak tadi dan sedang menonton siaran TV lokal yang menyajikan acara talk show dengan bintang tamu seorang ibu-ibu yang berasal dari keluarga kurang mampu tapi memiliki anak yang sangat pintar sehingga bisa sekolah ke luar negeri. Untuk sejenak ia mengabaikan acara TV tersebut dan memilih fokus pada abangnya.
                “ABANG BOHOOOOONNGGGG!!!!” Jeritnya kesal. Sang Mama, Felizarni sampai keluar dari ruang kerja suaminya di lantai dua yang juga merangkap sebagai ruang kerja miliknya.
                “Nessa, kamu kenapa, nak? Kok pulang-pulang bukannya salam malah teriak-teriak gitu, sih?” Mamanya bertanya heran dari pinggir koridor lantai dua dekat tangga yang berhadapan langsung dengan ruang keluarga.
                “Bang Ceno, tuh, Maaaa,” rengeknya.
                Sang Mama hanya bisa geleng-geleng kepala saja bila Vannesa mulai merengek kepadanya karena kesal dengan abang-abangnya. “Apa lagiii? Kamu udah SMA, loh, Ness. Jangan suka manja gitu lagi, ah.”
                “Ih, Mamaaaaaaa,” ia masih saja merengek. Berharap Mamanya mau membantunya untuk mengatasi rasa kesalnya kepada Ceno.
                “Emang ada apa, sih? Kok ribut-ribut begini?” Admiral, Papa mereka muncul dari balik punggung Mama mereka. Tangannya merengkuh pinggang ramping sang istri dengan mesra. Ini yang Vannesa suka dari mereka; walaupun sudah menjelang setengah abad, tapi kemesraan di antara mereka tidak pernah pudar dimakan usia.
                “Biasa, Pa. Urusan anak muda, laaahh.” Ceno menjawab cepat sebelum Vannesa membuka mulutnya.
                “Oh, gitu. Ma, kita ke kamar, yuk? Badan Papa pegel-pegel semua, nih, seharian di kantor mantengin kertas-kertas proyek sama laporan muluuu..” Papa mereka menoleh kepada istrinya dan mengerling jahil.
                “Ish, si papa. Ya, udah. Yuk,” dengan lembut Mama mereka menarik sang Papa menuju kamar utama.
                “Duuh, Ma, Pa, tiap hari berasa pengantin baru aja, yaaa.” Ceno menggoda mereka dari bawah. Sementara yang digoda hanya bisa nyengir malu.
                “Yaaaahhh, Mama kok ngabur, siihh?” Vannesa bergumam pada dirinya sendiri ketika kedua orang tuanya menghilang dari pandangannya.
                Ceno yang mendengar gumaman si adik langsung cengengesan nggak jelas, siap untuk menggoda kembali Vannesa.
                “Jadi—”
                “Aduh! Sakit peruuutt, toilet mana toilet.” Tiba-tiba Vannesa memegang perutnya dan berakting seolah perutnya sakit tepat ketika Ceno akan mengintrogasi—atau menggodanya lagi. Ia segera berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Ceno yang bengong sendirian karena melihatnya heboh sendiri.

                “Yeeee, dasar bocah!” Sungut Ceno.

No comments:

Post a Comment